iklan google

Rabu, 06 Januari 2016

PARADANCE #9 lebih variatif


Ajang penampilan karya tari dari para penari dan koreaografer muda di Jogja dan sekitarnya, PARADANCE akan kembali digelar pada 9 Januari 2016, jam 19.30 di Balai Budaya Minomartani, Ngaglik, Sleman. Acara yang diprogramkan oleh komunitas GMT Jogjadrama ini memang digelar rutin setiap dua bulan sekali.Paradance diperuntukkan bagi siapa saja pecinta dan pencipta tari untuk membawakan karya aslinya, atau boleh juga bagi penari muda yang masih belajar untuk mengetes kemampuan dan belajar tampil di muka umum.

Dimulai pada 2014, Paradance didominasi oleh penampilan calon-calon penari masa depan dari Jurusan tari ISI yogyakarta. Meski demikian, tidak semua peserta adalah mahasiswa ISI. "Paradance itu kami selenggarakan untuk memberi semangat pada para penari muda yang merasa tidak punya ruang untuk membawakan karyanya. Ini juga sebagai ajang para pekerja seni tari saling bertemu dan bertegur sapa, mau yang dari ISI, UNY, sanggar-sanggar dan komunitas mana saja. Bahkan kami tidak membatasi hanya pada jenis tari tertentu, tetapi lebih luas sampai ke semua jenis seni gerak tubuh boleh ikut tampil. Paradance pernah juga menampilkan seniman muda pantomim dan teater tubuh.” Ungkap Nia Agustina, manajer acara Paradance.

Meski acara diselenggarakan dengan sangat sederhana, antusiasme para seniman gerak tubuh ini cukup tinggi dari sejak awal. Pada Paradance ke-9 nanti, akan tampil 7 nomor karya. Mereka yang tampil adalah karya-karya dari Mima, Weka Swasti, dan Endang Setyaningsih. Juga akan tampil komunitas Chakil Squad pimpinan Wisnu Aji Setyo Wicaksono, Delapan Studio pimpinan Ari Ersandi dan Zhi Art Dance, serta komunitas teater Migrating Troop yang dimotori aktor dan sutradara Citra Pratiwi.

Paradance dipertontonkan secara gratis dan terbuka untuk umum. “Kami tidak mencari sponsor dari mana-mana. Memang sengaja tidak mencari. Kebutuhan teknis dibuat sesederhana mungkin. Jikapun dibutuhkan sedikit biaya, itu kami usahakan sendiri melalui program Adiksukma Inisiatif dan dibantu oleh para pengurus Balai Budaya Minomartani dan teman2 sukarelawan.” Urai Ahmad Jalidu disambut anggukan Nia Agustina.

Tidak ada komentar:

Iklan Google