Tampilkan postingan dengan label NYANYIAN RIMBAYANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NYANYIAN RIMBAYANA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Ballet Musikal Nyanyian Rimbayana, produksi baru yang pantas dinanti...


Gamblank Musikal Teater sedang mempersiapkan produksi baru 2011. Menurut rencana Manajer Produksi Febrinawan Giants, pertunjukan ini akan dipentaskan pada bulan Desember 2011.


NYANYIAN RIMBAYANA :
A BALLET MUSICAL Show



Nyanyian Rimbayana (NR) adalah sebuah naskah drama musikal karya M Ahmad Jalidu. NR berkisah mengenai koloni binatang di sebuah hutan di Jawa yang dipimpin oleh raja hutan yaitu Harimau Jawa. Pada dasarnya kisah binatang ini adalah kiasan dari kehidupan sosial manusia, direkayasa untuk menjadi tontonan menarik yang tetap memiliki muatan moral positif sebagai cermin kehidupan.

NR telah beberapa kali dimainkan oleh kelompok atau lembaga lain antara lain Forum Komunikasi UKM UNY dalam rangka Dies Natalis UNY 2009, Teater Kodok STMT Trisakti, juga beberapa SMA di Jombang, Purworejo, Bandung dan sebagainya. NR juga menjadi salah satu naskah pilihan dalam Festival Drama Musikal Bandung 2011.

Ballet Musikal.
Gamblank Musikal Teater adalah kelompok teater Independen yang didirikan oleh M Ahmad Jalidu (Penulis). Kali ini GMT akan memproduksi NR dalam format Ballet Musikal. Yang dimaksud dengan Ballet Musikal adalah di mana drama musikal ini akan diwarnai dengan tata gerak berdasarkan pola gerak ballet. Gesture (permainan gerak tubuh) tokoh2 dalam cerita juga akan dirujuk pada gerak ballet. Meski demikian NR Ballet Musikal ini tidak akan dibawa ke arah pertunjukan sendratari ballet murni.

Keunggulan dari segi visual dan penggarapan :
1. Keungulan NR adalah kisahnya yang menyuguhkan dunia binatang, sehingga sangat memungkinkan mendorong karya ini menjadi produk teater yang cocok bagi tontonan keluarga segala umur.
2. Meski demikian NR tidak lupa menyisipkan pesan moral yang intinya adalah keyakinan dan kecintaan akan kekuatan budaya sendiri serta untuk berani membangun jati diri bangsa tanpa harus terseret gaya bangsa lain.
3. Bentuk Drama musikal adalah bentuk drama disertai dengan tarian dan nyanyian yang lebih menghibur.
4. Drama musikal NR versi GMT 2011 ini juga dirancang untuk mengangkat gaya tari ballet, sesuatu yang belum pernah dilakukan teaterawan di Yogyakarta.
5. Amanat utama dari NR yakni kepercayaan diri terhadap jati diri dan lokalitas akan ditabrakkan pada bentuk penggarapan yang justru diimpor dari barat (ballet dance), ini bukan berarti rancu, tapi justru memberi penyadaran yang tinggi bahwa bukan chauvinisme yang didorong, tetapi kesadaran pada potensi budaya sendiri dan potensi interkultural yang positif.

Keunggulan tematik :
1. NR menyuguhkan sebuah nilai nasionalisme budaya yang sangat tegas, dalam naskah bagian akhir terdapat kalimat “Rimbayana memang harus kaya, harus maju, tetapi dengan tetap memegang jati diri Rimbayana, bukan jati diri negara lain!” Pesan yang agung ini tetap dibalut melalui kisah roman dan komedi yang menarik dan menghibur.
2. Tokoh yang dimainkan dalam kisah NR adalah dunia binatang. Dalam cerita ini kita dapat menyebut beberapa jenis binatang langka seperti Harimau Jawa, Kakak Tua, Burung Hantu, Elang Jawa dan sebagainya. Beberapa jenis binatang tersebut ada yang sudah dinyatakan punah dan beberapa dalam kondisi terancam. Oleh karenanya Melalui NR kita dapat pula mengkampanyekan pentingnya melestarikan kekayaan satwa Nusantara dan bahkan mengkampanyekan gerakan konservasi satwa.

Keunggulan SDM
1. Pertunjukan ini dikerjakan secara kolektif oleh tim pengurus dan anggota GMT. Kelompok ini telah sejak berdiri (2005) memfokuskan diri pada penggarapan drama musikal meski dalam format sederhana. Pengalaman ini membuat GMT bisa dikatakan terpercaya untuk penggarapan drama musikal.
2. NR Ballet Musical Show ini ditangani oleh M Ahmad Jalidu, penulis sekaligus sutradara GMT yang telah mengenal drama musikal sejak tahun 2000 bersama Teater Gardanalla, dilanjutkan sejak 2002-2007 aktif di Kelompok Sekrup juga memproduksi beberapa drama musikal, bahkan beberapa kali terlibat sebagai supervisor penggarapan drama musikal di dies natalis UNY 2007 dan 2009 serta ujian Kajian Drama jurusan PBSI UNY 2008-2010.
3. Tata gerak akan dipercayakan kepada Scholastica W Pribadi. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Tari UNY ini juga sedang mendalami tari ballet di Bailamos Dance School. Scholastica juga berpengalaman menggarap pertunjukan sendratari dengan campuran tari Jawa dan Ballet pada bulan Maret 2011 lalu.
Beberapa pemain yang terlibat juga adalah para pembelajar tari ballet dan pembelajar seni Akting teater.

SAKSIKAN DI

GEDUNG SOSIETET MILITAIR, TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
22-23 Desember 2011 jam 20.00 WIB
TIket Rp 15.000

Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang
4 Januari 2012 jam 20.00 WIB
Tiket Rp 8.000

PESAN TIKET SEKARANG JGA melalui 0856 2856 610
Tiket diantar ke alamat Anda (khusus dlam kota Jogja dan Sleman)

Sabtu, 26 November 2011

Ballet in the jungle

A Ballet Musical Theatre “Nyanyian Rimbayana” from GMT (Gamblank Musical Theatre)

*Pricillia Winata

“What I have, that’s what I like. That’s the reason why I have the idea to make this show.”, said Didik Adi Sukmoko (32) while smocking his cigarette during the interview.
Didik or M Ahmad Jalidu as he is populary known, is the stage director of “Nyanyian Rimbayana” and one of the founder of GMT. The idea to make this event came from when he met a friend (Tika) whose studying dance education in UNY. “Well, about 3 years ago, I met Tika. And since last few months she was studying Ballet and very excited about Ballet until now. Finally, I asked her to join this event as the choreographer of Ballet. She agreed and we started the preparation for this show,” said Mas Jali, trying remember that time.
The preparation has been started since July, with the training is held twice a week for July-August, from 07.00 PM-10.00 PM. For September – December, the schedule will be increased as the time of event closer. Based on the plan, the event will be held on December, in Gedung Pamungkas. The training is done usually in Bale Samirono or UNY.
For GMT, this is the first time this community combines ballet dance with theatre. No theatre community in Jogja has ever combined ballet dance and theatre before. Though this is the first time, Jali, as the founder of GMT, doesn’t give up and move on. This event is something new in GMT, and also in Jogja. It is rarely founded in Jogja theatre communities who hold musical theatre; there are only some of them, for example: KOIN community. However, this community isn’t focus on musical theatre. This community only holds musical theatre once in a while. Musical and ballet are still new and interesting things in Jogja. Both things make the curiosity for people to know it. “It is a challenge for GMT to make something new and different for the others, “said Jali spiritly.
“Nyanyian Rimbayana” is a musical drama, written by M Ahmad Jalidu, about an animal Kingdom (Rimbayana) which is lead by a king, a Javan tiger. Basically, this drama is a mirror of the society’s life. It’s an interesting story because it shows the good moral about love and spirit to build our identity as Indonesian. This message is the reflection for society. Besides, this drama will be combined with ballet. In this show, the dance and action of the characters will follow the ballet technique. So, all the characters aren’t allowed to move and act generally. They should act like animals, but still in the ballet technique. It will make a new and different actions in this show.
To act and dance in ballet technique aren’t easy thing, because most of the members are never learn ballet before. That’s why the preparation for this show has been started since July. Most the members are the college students from UNY, USD, UAD,etc. All the members are trained by the choreographer, Scholastica. The tecniques given are the basics of ballet; such as: point, sotte, classical walk, etc. All the members fight and practice hard for the best performance in this show. It’s very difficult for the members, but they never give up. They keep trying for the best show in December.
Although the ballet techniques are basics, it’s combined with the acting as animals. So, the ballet techniques are combined with the acting as animals. It’s an improvisation. The result is a new harmony technique between ballet and acting as animals.

Priscilia Winata, Student of English Literature, Sanata Dharma University.

Senin, 31 Oktober 2011

SIAPA BILANG HARIMAU JAWA PUNAH?

"Catatan ini diambil dari sumber lain, diposting ke halaman GMT dalam rangka meneriakkan semangat produksi pertunjukan teater musikal "NYANYIAN RIMBAYANA" Desember 2011, sekaligus turut menyemangati upaya-upaya penelitian dan penyelamatan Harimau Jawa."


Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini).
Apakah periode defekasi harimau jawa selama tujuh tahun? Tentu tidak. Defekasi harimau di habitat insitunya dapat terjadi empat kali dalam satu minggu, bergantung pada pemangsaan dan besarnya mangsa. Tetapi mengapa setelah tujuh tahun baru ditemukan kembali feses harimau jawa? Tentu karena tidak ada periset yang memantau keberadaan harimau jawa di TNMB secara kontinyu, walau Jagawana sekalipun.

Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini). Walaupun sampel temuan rambut baru teridentifikasi sebagai milik harimau jawa setelah dianalisis pada tahun 2001 (Kompas, 29/09/2003). Agustus 2004 penduduk tepi kawasan TNMB menemukan feses harimau jawa.

Sebenarnya pada tahun 1993 seorang jagawana TNMB pernah melihat langsung harimau loreng melintas di depan mobil yang ditumpanginya bersama turis asing sewaktu menuju pantai Sukamade (pengakuan langsung kepada penulis tahun 2002). Selain itu pasca ekspedisi PL-Kapai ‘97 pernah ditemukan feses harimau jawa oleh jagawana TNMB di Sukamade pada bulan Mei 1998. Feses tersebut berdiameter 7 cm, dengan pajang 25 cm, terdiri dari dua bolus, mengandung rambut kijang dan babi hutan. Berdasarkan ukuran feses diperkirakan tubuh harimau jawa pelaku defekasi memiliki panjang tubuh sekitar 300 cm dengan berat badan berkisar 200 kg.
Berbagai temuan hasil ekspedisi PL-Kapai ‘97 diyakini milik harimau jawa setelah dilakukan penyaringan data secara ketat. Acuan pembanding bekas aktivitas berasal dari macan tutul dan harimau sumatera koleksi Kebun Binatang Surabaya (exsitu) serta dari TN Way Kambas Lampung (insitu). Setelah tahap penyaringan data dilalui justru diperoleh pengetahuan tentang kriteria ukuran baku bekas aktivitas harimau jawa ?tertuang dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam (terbit 2001).

Pembuktian keberadaan harimau jawa tidak hanya sebatas opini, sebab Desember 1998 diprakarsai Mitra Meru Betiri (MMB) cabang Jogjakarta ?Matalabiogama Fakultas Biologi UGM menyelenggarakan Seminar Nasional Harimau Jawa di UC UGM yang dihadiri oleh 150 akademisi dan praktisi hidupan liar. Seminar nasional itu terselenggara berkat dukungan Indonesian Wildlife Fund dan Sumatran Tiger Project ?(sekarang Sumatran Tiger Consevation Programe?). Pada seminar nasional tersebut dihasilkan 11 poin rekomendasi dan pengakuan eksistensi harimau jawa diberbagai hutan tersisa di Jawa, sehingga perlu dilakukan ekspedisi-ekspedisi susulan dengan melibatkan masyarakat.

Jika di Jogjakarta tahun 1998 dilakukan seminar nasional harimau jawa, pada tahun yang sama di Gunung Betiri seorang pemanen buah kemiri mengaku mengikuti harimau loreng betina dengan seekor anaknya selama tiga jam. Bahkan bulan September 2004 yang lalu, pemanen madu sempat menjumpai jejak macan selebar piring makan. Perjumpaan dengan harimau jawa juga terinformasikan oleh penduduk sekitar hutan lindung di Jawa Tengah.

Keyakinan bahwa eksistensi harimau jawa tidak hanya di ‘habitat terakhirnya’ TN. Meru Betiri digaungkan oleh Tim Pembela dan Pencari Fakta Harimau Jawa (TPPFHJ) Kappala Indonesia ke seluruh Jawa. Sehingga bersama BKSDA Jatim II tahun 1999 dilakukan ekspedisi harimau jawa di luar kawasan Meru Betiri meliputi Gunung Ijen sampai Gunung Raung. Usaha pengumpulan data bekas aktivitas harimau jawa juga merambah kawasan Gunung Slamet Jawa Tengah tahun 1999 dan 2000. Hasilnya diketahui bahwa di Gunung Raung maupun di Gunung Slamet berlandaskan temuan rambut yang dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) masih ada harimau jawa.

Untuk pemfokusan kajian terhadap karnivor jawa, maka sejak 2002 TPPFHJ menyapihkan diri dari Kappala Indonesia menjadi PKJ. Gerakan penyelamatan harimau jawa kemudian dikembangkan ke dunia maya dengan alamat portal: www.javantiger.or.id. Sehingga dunia dapat mendengar bahwa harimau jawa di Pulau Jawa masih eksis dan masih menjadi bahan kajian serius. Terbukti dengan hasil skripsi 4 orang mahasiswa yang berhasil mencapai derajat sarjana (1 dari F.Biologi UGM mengangkat tema rambut; 2 dari Jurusan Biologi F.MIPA Unpad mengangkat tema rambut; dan 1 dari F.Geografi UGM mengangkat tema kelayakan TNMB sebagai habitat harimau jawa).

Perjuangan pembuktian keberadaan harimau jawa yang dilakukan oleh generasi muda Indonesia secara sungguh-sungguh selama bertahun-tahun sampai menguras kocek pribadi, tidak pernah mendapat respon positif dari bangsa ini. Bahkan banyak perilaku yang cenderung menisbikan usaha-usaha tersebut, salah satu contoh tercermin di harian Kompas (29/11/2004) yang mengusung berita tentang punahnya harimau jawa. Termuat di halaman 10 bertajuk: Populasi Harimau Terancam, pada alenia ketiga dituliskan: “Kini tiga dari delapan sub-spesies harimau sudah punah, yaitu harimau bali (1940-an), harimau kaspia (1970-an), dan harimau jawa (1980-an)”. Apakah sumber pengetahuan tentang keberadaan harimau jawa yang dihasilkan oleh anaknegri ini tidak bernilai ilmiah. Ataukah harus ‘bule’ dulu baru bisa diakui ke-ilmuannya oleh bangsa ini? Apakah feses temuan penduduk tepi hutan TNMB yang tersusun dari rambut babi hutan berdiameter 5 cm, panjang 22 cm, mengandung kuku kaki babi hutan pada pertengahan Agustus 2004 bukan milik harimau jawa? Padahal kandungan kuku kaki prey pada feses jelas menunjukkan bekas aktivitas macan loreng, karena macan tutul tidak berperilaku seperti itu.
Menindak lanjuti terhadap temuan feses tersebut Kappala Jember, Balai TNMB, STCP dan PKJ serta PPS Jogja pada akhir Oktober 2004 yang baru lalu bergabung melakukan survey manual selama tujuh hari. Data terbaru yang ditemukan berupa cakaran harimau jawa dengan luka goresan tertinggi 226 cm dari permukaan tanah dan jarak antar goresan kuku 4 cm (dapat disaksikan pada video flip di web ini). Temuan itu penulis simpulkan sebagai bekas aktivitas harimau jawa.

Semoga kasus publikasi temuan homo floresiensis alias manusia kerdil dari Liang Bua tidak akan pernah menimpa Panthera tigris sondaica yang endemik jawa. Dimana usaha pembuktian keberadaan ‘satwa punah’ yang telah dirintis anaknegri selama bertahun-tahun terhapus begitu saja oleh sebuah foto harimau jawa terbaru hasil jepretan peneliti dari ‘luar negeri’ yang selalu didukung dana dan peralatan canggih. Harapan itu akan terwujud jika pers turut peduli terhadap publikasi ilmiah temuan terbaru anaknegri Indonesia sendiri.

Berdasarkan argumen temuan data di atas, akhirnya kepada siapapun yang menyatakan harimau jawa punah, penulis ajukan pernyataan: buktikan bahwa harimau jawa sudah punah!

Didik Raharyono
Kulonprogo, Januari 2005.
Sumber http://www.warta.unair.ac.id
URL http://www.warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=65