Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2022

Ngono ya Ngono di Taman Budaya Yogyakarta


Ngono ya Ngono, akan dipentaskan kembali di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta 23 Oktober 2022. Ngono ya Ngono, adalah sandiwara musikal karya Ahmad Jalidu yang ditulis dan dipentaskan perdana pada 2015 lalu. Kali ini Ngono ya Ngono terpilih menjadi salah satu sajian dalam Parade Teater Linimasa #5 yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta.

GMT Jogjadrama menjadi salah satu dari enam penyaji pada ajang tersebut. Tepatnya, Ngono ya Ngono akan disajikan oleh GMT Jogjadrama pada hari pertama parade, 23 Oktober 2022 di sesi kedua setelah sesi pertama akan menampilkan Teater Amarta. 

Pada Ngono ya Ngono kali ini tentu saja ada pembaharuan baik dari sisi konsep pertunjukan maupun dari sisi personel. Berikut adalah para personel utama yang terlibat:

para pemeran:
- Wijil Rachmadhani
- Arief Gogon
- Sapta Sutrisno
- Ira Mayasari
- Ajeng Jovanditya
- Odon Saridon

Host:

  • Ahmad Jalidu

  • Febrinawan Prestianto.

Track Lagu : Rannisakustik and Friends, Arransemen dan ilustrasi : Jenar Kidjing

Artistik : Habib Syaifullah,
Lighting : Bocah Angon
Video lirik : Saeful Uyun

Naskah dan Sutradara : Ahmad Jalidu


Dalam proses produksi ini, GMT didukung oleh lingkar support dari kawan-kawan seperti Balai Budaya Minomartani, Museum Hujan, Gelaran.id, Penerbit Garudhawaca, Iso Studio, Gilig Production dan Kaf Media.


Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan GRATIS namun dengan rating Bimbingan Orangtua, artinya penonton remaja harus berada dalam dampingan orang tua.


Kamis, 03 Januari 2019

Dramatic Reading Lakon "Misai"

Pada 23 November 2018 lalu, GMT Jogjadrama diberi kesempatan turut dalam sebuah acara yang langka: pembacaan naskah lakon. Dalam acara bertajuk :Malam Bercerita edisi 11 tersebut, tiga komunitas didaulat untuk membacakan 3 naskah lakon. Tiga komunitas tersebut adalah GMT Jogjadrama, Jaring Project dan Sakatoya. Naskah-naskah lakon yang dibacakan dipilih dari belasan naskah lakon hasil besutan Forum Penulis Lakon Indonesia yang baru saja dibentuk. GMT Jogjadrama memilih satu lakon bernuansa komedi satir politik berjudul "Misai" karya Muram Batu.

Naskah ini cukup kocak dan sangat kontekstual terhadap situasi kekinian Indonesia. Al kisah, seorang Walikota petahana berencana maju kembali dalam ajang pilkada, maka ia menyuruh timnya memajang baliho bergambar foto dirinya. Namun terdapat kesalahan kecil yang menurutnya fatal, yaitu mengenai kumisnya yang tidak rapi di dalam foto tersebut. Rupanya ia sangat mementingkan penampilan kumisnya. Kejadian ini menggiring pada kejadian-kejadian konyol berikutnya... silakan baca sendiri deh... hehehe....

Di malam itu, GMT Jogjadrama menampilkan 5 aktor yaitu Agung Wijaya, Sapta Sutrisno, Arief Kurniawan, Febrinawan Prestianto dan Wijil Rahmadani, dengan pengarah Ahmad Jalidu. Berikut adalah beberapa foto dokumentasinya :


Febrinawan Prestianto (kiri) dan Sapta Sutrisno


Arief Kurniawan
Wijil Rahmadani
Agung Wijaya
Seluruh pembaca dari ketiga komunitas


Selasa, 05 April 2016

PARADANCE #10 dilirik luar Jogja.




Para penari dan koreografer penampil karya di Paradance #10.
Pergelaran seni gerak dan tari bertajuk PARADANCE yang diprakarsai  Nia Agustina dan Ahmad Jalidu dengan bendera GMT Jogjadrama, akan menginjak edisi ke-10 pada 25 Maret 2016 lalu. Acara rutin setiap dua bulan sekali ini telah dimulai pada Maret 2014 dan sudah  mementaskan hampir 50 karya tari dan pantomime dari seniman-seniman muda di bidang gerak dan tari di Yogyakarta.

Meski acara diformat sederhana,  antusiasme peserta yang terus ada menandakan bahwa program ini memang dibutuhkan utamanya bagi para koreografer muda yang hendak mempresentasikan karya-karya pendek di hadapan public. Tak hanya itu, acara ini juga sudah mulai dilirik oleh pihak-pihak di luar JOgja.
Sebagai bukti, acara ini telah membuat penasaran seorang dedengkot seni tari nasional, Maria 
Dharmaningsih, direktur Indonesia Dance Festival sekaligus dosen di Jurusan tari Institut Kesenian Jakarta yang menyempatkan diri datang menonton Paradance #9 pada Januari 2016 silam. Selain itu, pada Paradance #10 yang lalu, satu dari 8 penampil yang siap adalah Raka Reynaldi, seorang koreografer muda dari Bandung yang juga bekerja sebagai asisten dosen di Jurusan Pendidikan Seni Tari di UPI Bandung. 
Selain kedatangan Raka jauh-jauh dari Bandung, Paradance #10 nanti juga cukup kaya akan tema. Raka bersama 4 penarinya membawakan karya tarinya berjudul “Nur” yang menyorot maraknya perekrutan gerakan-gerakan atau organisasi apatis berbaju religi. Di kelompok lain ada juga kelompok tari dari lingkungan berbasis religi yaitu Adab Dance Community, sebuah kelompok UKM bidang tari di lingkungan Fakultas Adab dan Budaya UIN Sunan Kalijaga. Tentu saja, ini menjadi sesuatu yang unik di Paradance karena para penari ADC menggunakan kostum tari yang anggun mewah dan tetap syar’i. 

Enam penampil lainya juga mewarnai Paradance #10 lebih variatif lagi. Meski keenamnya adalah komunitas dan koreografer yang saat ini tinggal di Yogya, namun mereka berlatar belakang etnis dan wilayah lain yang tentu akan membuat karya mereka lebih unik. Sebut saja, Bagus Bang Sada, pemuda Bali yang saat ini belajar tari di ISI Yogyakarta. Ada juga Nabilla Zainal yang berasal dari Lampung dan sedang menempuh pendidikan pasca sarjana di Yogya. Sementara Yessi Yoane dengan karya bersumber dari Yoga, Assabti Nur Hudan dengan kreasi bergaya animal pop, serta duet Elisabeth Nila dan Etta Ayodya berhasil menghebohkan penonton yang berdesakan dengan tarian extravaganza mulai dari modern dance, latin hingga joget dangdut lengkap dengan iringan music dari potongan lagu “Pokoke Njoged”. Mereka semua adalah koreografer muda Yogya yang cukup aktif saat ini. Satu lagi yang unik dan tak pantas dilewatkan adalah kehadiran komunitas Bodynesia, sebuah kelompok seni dari mahasiswa-mahasiswi jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Mahasiswa etno menari? Ya, ternyata mereka bisa dan tentu saja bagus. Memadukan seni gerak dari berbagai aksen tari tradis Nusantara dengan seni acapela dan body percussion yang memukau.
Meski acara molor sekitar 45 menit karena cuaca hujan, namun acara berjalan dengan lancan dan penonton berjubel di tengah dingginya malam. *AJ

Penampilan komunitas Bodynesia

Duet Elisabeth Nilla dan Etta Ayodya

Raka Reynaldi, dan para penarinya dalam karya berjudul NUR

Olah tubuh dari bentuk-bentuk dan filosifi Yoga, menjadi karya yang kontemplatif berjudul UOG(Y)A karya Yessi Yoanne.




Foto-foto dari Dramatic Reading Musikal Sampek Engtay


20 Maret 2016, GMT Jogjadrama tampil membacakan naskah lakon SAMPEK ENGTAY di acara Forum Kilometer Nol ke-12 di Hotel Pondok Tingal, Magelang.

Berikut beberapa foto, dari penampilan GMT Jogjadrama.





Seluruh panitia dan pengisi acara FKN 12
Opening Pembacaan Drama. Dari kiri ke kanan : Wijil Rachmadani, Haryo Widodo, Cilik Tri Pamungkas, Febrinawan Prestianto, Sapta Sutrisno, Hanif S Muchtar, Ahmad Jalidu, Arief Kurniawan, Finta Nuarita, Anintriyoga.







Diskusi panel setelah akhir acara. Dari kiri ke kanan : Memed Chairul Slamet (Dosen Musik ISI Yogyakarta), Ahmad Jalidu (Sutradara GMT Jogjadrama), Teguh Mahesa (Sutradara Mendut Institut), Nur Iswantoro (Dosen Teater ISI Yogyakarta), Tentrrem Lestari (moderator, guru dan pembina teater SMA 1 Mertuyodan), paling kanan, Sutradara Komunitas Rumah Singgah Surakarta.

Sabtu, 22 Agustus 2015

PARADANCE #7 | muhibah kecil ke lokasi baru



Haloo...
Teman, Akhir bulan ini PARADANCE akan kembali digelar. Untuk edisi ke-7 ini kita coba melakukan muhibah kecil :). Ya. Kita pindah lokasi. Paradance #1 - #6 telah digelar di Bale Budaya Samirono. Kali yang ke-7 ini kita akan coba mengelar di Balai Budaya Minomartani. Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 5 km dari Samirono. Tetapi pasti dengan lingkungan yang baru, akan tumbuh semangat dan sensasi baru.

6 koreografer / penampil akan kita saksikan nanti. mereka adalah :
Yola Utari
Ah Mamad Si Santri
Gienaneig (Loka Art Studio)
Yemima P (Loka Art Studio)
Dewi Sinta
Aprilia Wedaringtyas


Jangan lupa, PARADANCE terselenggara berkat dukungan Adisukma Inisiatif, Penerbit Garudhawaca, Gardabuku.com dan Balai Budaya Minomartani. 
Oke, sampai ketemu 29 Agustus nanti di Balai Budaya Minomartani, Sleman, Yogyakarta.

Sabtu, 06 Juni 2015

"Ngono ya Ngono" bertandang ke Borobudur, Magelang

Setelah sukses digelar di Kantor Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman pada 9 Mei 2015 silam, Ngono ya Ngono akan kembali dipentaskan pertengahan Juni nanti. Kali ini, GMT JOGJADRAMA bergandengan tangan dengan sahabat dari kota kelahiran sang sutradara, Magelang. Komunitas Mendut Institut, yang bermarkas di Rumah Buku Dunia Tera, desa Wanurejo, Borobudur Magelang, bersedia membantu menyiapkan tempat untuk pertunjukan kita ini.

Bertempat di pendapa TIC (Tourism Information Center) di Jl. Balaputradewa no. 1, Brojonalan, Wanurejo, Borobudur, kisah tragis Joko dan Eni akan ditampilkan dengan semangat dan ketulusan yang sama sebagaimana kisah ini dibeberkan di Jogja sebulan yang lalu. Jadwal pementasan pasti yang diberikan oleh pihak MI adalah 15 Juni 2015 jam 19.30 WIB.

Edisi Borobudur ini masih tetap membawakan cerita yang sama dan squad yang sama. Ahmad Jalidu, penulis sekaligus sutradara pentas ini mengatakan bahwa tidak ada yang berubah, selalin detil set panggung yang jauh lebih sederhana, itu dikarenakan adaptasi tempat dan penyesuaian kondisi jadwal acara. Acara yang difasilitasi MI ini sejatinya semacam parade teater kecil-kecilan. Diawali dengan pementasan pada siang hari oleh kelompok teater dari salah satu SMA binaan seniman-seniman MI, juga pementasan oleh mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UMM, kemudian malam harinya adalah penampilan GMT JOGJADRAMA.  Lagipula, Ahmad Jalidu memang tidak terlalu mementingkan artistik panggung yang terlalu detail. "Sejauh aktor bisa menghadirkan konteks lokasi dalam adegan melalui dialog dan plastis yang pas, itu sudah cukup." demikian ungkapnya.

Ngono ya Ngono adalah sebuah drama yang mengangkat sekelumit tragedi pasangan suami istri. Di dalamnya sarat akan point-point yang sangat patut dijadikan bahan refleksi tentang citra dan dominasi laki-laki dalam rumah tangga dan kaitannya dengan berbagai praktik kekerasan baik fisik maupun non fisik yang dialami perempuan. Jalinan kisah dan alurnya sangat nyata dan bahkan bisa dikatakan true story, sangat banyak kita jumpai di sekitar kita."Saya membaca sebuah buku berisi laporan hasil penelitian Rifka Annisa di beberapa wilayah di kota Yogyakarta. Dari berbagai kasus yang dicatat dan dituangkan dalam buku itu saya comot dan saya rangkai menjadi kisah Ngono ya Ngono." kata Ahmad Jalidu.

Sebelumnya, Ngono ya Ngono dipentaskan atas dukungan penuh dari Rifka Annisa Women Crisist Center dan Aliansi Laki-laki Baru dan digelar sebagai salah satu bentuk kampanye alternatif untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sementara kali ini di Magelang, Rifka Annisa tidak lagi menjadi penyokong dana utama. Pihak GMT JOGJADRAMA sampai menjual kaos secara online di jejaring sosial facebook untuk menutup biaya produksinya.

Kami sendiri menikmati karya ini, dan berusaha menyerap nilai-nilainya menjadi salah satu penyokong kepribadian kami. Sehingga pementasan di Magelang ini kami jalani dengan penuh semangat dan ketulusan. Kami sangat ingin terus mementaskannya di berbagai kota lain dengan dukungan dari mana saja. Jika Anda tertarik, silakan menghubungi kami. :)




Sabtu, 23 Mei 2015

GALANG DANA Pementasan GMT JOGJADRAMA Jual KAOS!!


Halo Sahabat, Setelah sukses digelar di pendapa Kantor Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman, Drama musikal "Ngono ya Ngono" akan dipentaskan lagi di Pendapa TIC Borobudur, Magelang pada 15 Juni 2015 dan juga di Salatiga (masih dalam pembicaraan).

Untuk mendukung kebutuhan biaya pementasan, GMT JOGJADRAMA menjual merchandise kaos seperti dalam gambar. Kaos tersebut dijual secara pre-order seharga Rp 80.000.

Untuk memesan kaos tersebut, silakan mengirimkan SMS / WhatsApp ke nomor 0856 2856 610 dengan format : NAMA # KOTA ANDA # UKURAN # WARNA
Selanjutnya kami akan membalas dengan memberikan petunjuk pembayarannya. Untuk ANda yang di luar wilayah Yogyakarta dan Sleman, mungkin diperlukan biaya tambahan untuk ongkos kirim.

DEsain kaos tersebut bertuliskan "LELAKI SEJATI Seharusnya Lembah Manah ORA KEMLINTHI" yang dalam bahasa Indonesia artinya "rendah hati dan tidak angkuh". Kalimat tersebut mengandung pesan moral kepada semua kaum lelaki untuk bersikap lebih lembut dan penyayang terutama kepada perempuan dan juga kepada semua manusia. Kalimat tersebut adalah sumbangan dari kawan kami Sugito HS, sedangkan desainnya adalah sumbangan dari kawan kami Erwin Duta Rustaman, seorang desainer dari Poster Gerak Senyap yang merupakan anggota komunitas  Folk Mataram Institute.

Jika Anda tidak suka kaos, ANda juga bisa membantu kami dengan membeli buku "BABAD TANAH JAWI" yang diterbitkan oleh Penerbit Garudhawaca. Hasil penjualan buku tersebut selama Mei-Agustus akan disumbangkan kepada GMT JOGJADRAMA. 


Ngono ya Ngono, adalah drama karya Ahmad Jalidu yang mengangkat tema citra diri laki-laki dan pengaruhnya kepada kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan dalam pacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga. Pementasan ini akan memainkan 6 lagu dari album "Bertanya Apa Itu Cinta" produksi Forum Pencipta Lagu Muda Yogyakarta dan Rifka Annisa Woman Crisist Center..

Nah, Segera sambar HP ANda dan SMS pemesanan merchandise Anda.


Kamis, 01 Desember 2011

Ballet Musikal Nyanyian Rimbayana, produksi baru yang pantas dinanti...


Gamblank Musikal Teater sedang mempersiapkan produksi baru 2011. Menurut rencana Manajer Produksi Febrinawan Giants, pertunjukan ini akan dipentaskan pada bulan Desember 2011.


NYANYIAN RIMBAYANA :
A BALLET MUSICAL Show



Nyanyian Rimbayana (NR) adalah sebuah naskah drama musikal karya M Ahmad Jalidu. NR berkisah mengenai koloni binatang di sebuah hutan di Jawa yang dipimpin oleh raja hutan yaitu Harimau Jawa. Pada dasarnya kisah binatang ini adalah kiasan dari kehidupan sosial manusia, direkayasa untuk menjadi tontonan menarik yang tetap memiliki muatan moral positif sebagai cermin kehidupan.

NR telah beberapa kali dimainkan oleh kelompok atau lembaga lain antara lain Forum Komunikasi UKM UNY dalam rangka Dies Natalis UNY 2009, Teater Kodok STMT Trisakti, juga beberapa SMA di Jombang, Purworejo, Bandung dan sebagainya. NR juga menjadi salah satu naskah pilihan dalam Festival Drama Musikal Bandung 2011.

Ballet Musikal.
Gamblank Musikal Teater adalah kelompok teater Independen yang didirikan oleh M Ahmad Jalidu (Penulis). Kali ini GMT akan memproduksi NR dalam format Ballet Musikal. Yang dimaksud dengan Ballet Musikal adalah di mana drama musikal ini akan diwarnai dengan tata gerak berdasarkan pola gerak ballet. Gesture (permainan gerak tubuh) tokoh2 dalam cerita juga akan dirujuk pada gerak ballet. Meski demikian NR Ballet Musikal ini tidak akan dibawa ke arah pertunjukan sendratari ballet murni.

Keunggulan dari segi visual dan penggarapan :
1. Keungulan NR adalah kisahnya yang menyuguhkan dunia binatang, sehingga sangat memungkinkan mendorong karya ini menjadi produk teater yang cocok bagi tontonan keluarga segala umur.
2. Meski demikian NR tidak lupa menyisipkan pesan moral yang intinya adalah keyakinan dan kecintaan akan kekuatan budaya sendiri serta untuk berani membangun jati diri bangsa tanpa harus terseret gaya bangsa lain.
3. Bentuk Drama musikal adalah bentuk drama disertai dengan tarian dan nyanyian yang lebih menghibur.
4. Drama musikal NR versi GMT 2011 ini juga dirancang untuk mengangkat gaya tari ballet, sesuatu yang belum pernah dilakukan teaterawan di Yogyakarta.
5. Amanat utama dari NR yakni kepercayaan diri terhadap jati diri dan lokalitas akan ditabrakkan pada bentuk penggarapan yang justru diimpor dari barat (ballet dance), ini bukan berarti rancu, tapi justru memberi penyadaran yang tinggi bahwa bukan chauvinisme yang didorong, tetapi kesadaran pada potensi budaya sendiri dan potensi interkultural yang positif.

Keunggulan tematik :
1. NR menyuguhkan sebuah nilai nasionalisme budaya yang sangat tegas, dalam naskah bagian akhir terdapat kalimat “Rimbayana memang harus kaya, harus maju, tetapi dengan tetap memegang jati diri Rimbayana, bukan jati diri negara lain!” Pesan yang agung ini tetap dibalut melalui kisah roman dan komedi yang menarik dan menghibur.
2. Tokoh yang dimainkan dalam kisah NR adalah dunia binatang. Dalam cerita ini kita dapat menyebut beberapa jenis binatang langka seperti Harimau Jawa, Kakak Tua, Burung Hantu, Elang Jawa dan sebagainya. Beberapa jenis binatang tersebut ada yang sudah dinyatakan punah dan beberapa dalam kondisi terancam. Oleh karenanya Melalui NR kita dapat pula mengkampanyekan pentingnya melestarikan kekayaan satwa Nusantara dan bahkan mengkampanyekan gerakan konservasi satwa.

Keunggulan SDM
1. Pertunjukan ini dikerjakan secara kolektif oleh tim pengurus dan anggota GMT. Kelompok ini telah sejak berdiri (2005) memfokuskan diri pada penggarapan drama musikal meski dalam format sederhana. Pengalaman ini membuat GMT bisa dikatakan terpercaya untuk penggarapan drama musikal.
2. NR Ballet Musical Show ini ditangani oleh M Ahmad Jalidu, penulis sekaligus sutradara GMT yang telah mengenal drama musikal sejak tahun 2000 bersama Teater Gardanalla, dilanjutkan sejak 2002-2007 aktif di Kelompok Sekrup juga memproduksi beberapa drama musikal, bahkan beberapa kali terlibat sebagai supervisor penggarapan drama musikal di dies natalis UNY 2007 dan 2009 serta ujian Kajian Drama jurusan PBSI UNY 2008-2010.
3. Tata gerak akan dipercayakan kepada Scholastica W Pribadi. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Tari UNY ini juga sedang mendalami tari ballet di Bailamos Dance School. Scholastica juga berpengalaman menggarap pertunjukan sendratari dengan campuran tari Jawa dan Ballet pada bulan Maret 2011 lalu.
Beberapa pemain yang terlibat juga adalah para pembelajar tari ballet dan pembelajar seni Akting teater.

SAKSIKAN DI

GEDUNG SOSIETET MILITAIR, TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
22-23 Desember 2011 jam 20.00 WIB
TIket Rp 15.000

Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang
4 Januari 2012 jam 20.00 WIB
Tiket Rp 8.000

PESAN TIKET SEKARANG JGA melalui 0856 2856 610
Tiket diantar ke alamat Anda (khusus dlam kota Jogja dan Sleman)

Sabtu, 26 November 2011

Ballet in the jungle

A Ballet Musical Theatre “Nyanyian Rimbayana” from GMT (Gamblank Musical Theatre)

*Pricillia Winata

“What I have, that’s what I like. That’s the reason why I have the idea to make this show.”, said Didik Adi Sukmoko (32) while smocking his cigarette during the interview.
Didik or M Ahmad Jalidu as he is populary known, is the stage director of “Nyanyian Rimbayana” and one of the founder of GMT. The idea to make this event came from when he met a friend (Tika) whose studying dance education in UNY. “Well, about 3 years ago, I met Tika. And since last few months she was studying Ballet and very excited about Ballet until now. Finally, I asked her to join this event as the choreographer of Ballet. She agreed and we started the preparation for this show,” said Mas Jali, trying remember that time.
The preparation has been started since July, with the training is held twice a week for July-August, from 07.00 PM-10.00 PM. For September – December, the schedule will be increased as the time of event closer. Based on the plan, the event will be held on December, in Gedung Pamungkas. The training is done usually in Bale Samirono or UNY.
For GMT, this is the first time this community combines ballet dance with theatre. No theatre community in Jogja has ever combined ballet dance and theatre before. Though this is the first time, Jali, as the founder of GMT, doesn’t give up and move on. This event is something new in GMT, and also in Jogja. It is rarely founded in Jogja theatre communities who hold musical theatre; there are only some of them, for example: KOIN community. However, this community isn’t focus on musical theatre. This community only holds musical theatre once in a while. Musical and ballet are still new and interesting things in Jogja. Both things make the curiosity for people to know it. “It is a challenge for GMT to make something new and different for the others, “said Jali spiritly.
“Nyanyian Rimbayana” is a musical drama, written by M Ahmad Jalidu, about an animal Kingdom (Rimbayana) which is lead by a king, a Javan tiger. Basically, this drama is a mirror of the society’s life. It’s an interesting story because it shows the good moral about love and spirit to build our identity as Indonesian. This message is the reflection for society. Besides, this drama will be combined with ballet. In this show, the dance and action of the characters will follow the ballet technique. So, all the characters aren’t allowed to move and act generally. They should act like animals, but still in the ballet technique. It will make a new and different actions in this show.
To act and dance in ballet technique aren’t easy thing, because most of the members are never learn ballet before. That’s why the preparation for this show has been started since July. Most the members are the college students from UNY, USD, UAD,etc. All the members are trained by the choreographer, Scholastica. The tecniques given are the basics of ballet; such as: point, sotte, classical walk, etc. All the members fight and practice hard for the best performance in this show. It’s very difficult for the members, but they never give up. They keep trying for the best show in December.
Although the ballet techniques are basics, it’s combined with the acting as animals. So, the ballet techniques are combined with the acting as animals. It’s an improvisation. The result is a new harmony technique between ballet and acting as animals.

Priscilia Winata, Student of English Literature, Sanata Dharma University.

Sabtu, 20 Maret 2010

Operet CINTA BULAN PANDA'I

Gamblang Musikal Titer kali ini bekerja bareng dengan Teater Rimpu. Ini memang hanya proyek iseng-iseng dan sederhana yang dimulai dari permintaan mengisi sebuah acara di Sumbawa. Tetapi acara itu gagal karena ketidaksiapan panitia. Meski demikian, semua pemain tetap melanjutkan latihan dengan penuh tawa dan canda.

Operet CINTA BULAN PANDA'I, demikian M Ahmad Jalidu memberi judul pada cerita itu, adalah sebuah cerita rakyat dari Sumbawa, tetapi ada bagian tretentu yang sedikit dipelencengkan untuk alasan teknis dan non teknis.

Operet CINTA BULAN PANDA'I yang disikapi dengan sangat santai oleh para pemain gabungan ini akan ditampilkan di gedung JOGJA EXPO CENTER pada tgl 28 Maret 2010 Jam 20.00 WIB. Acara ini memang bukan acara mandiri GMT atau Rimpu, tetapi adalah untuk turut memeriahkan Ulang Tahun MALIOBORO HASH HOUSE HARIERS ke 16 yang dirayakan pameran multi produk di JEC 26-28 Maret 2010. GMT dan Rimpu akan menjadi persembahan penutup dalam rangkaian acara itu.

OPERET CINTA BULAN PANDAI
JEC 28 Maret 2010 | 13.30 WIB

Sutradara : M Ahmad Jalidu
Musik Composser : Tyas Kusumawan
Ilustrasi : Rahmat Widjayanto

menampilkan Febrinawan Giant, Ulin Najah, Rizal M Fikri, Suyatman, Muchammad Muadib dan kawan-kawan.

Jumat, 08 Januari 2010

SAMPEK ENGTAY dan Tawa Terburai...

Ujian Kajian Drama PBSI 07 kelas GH didukung GMT.

Gedung Lab Pertunjukan Fakultas Bahasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta penuh sesak oleh muda-mudi yang rata-rata adalah mahasiswa. Mereka rela berjejal lesehan dan sebagian bahkan berdiri selama kurang lebih 130 menit. Senin malam, 4 Januari 2010 itu adalah giliran kelas mahasiswa-mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY angkatan 2007 kelas GH mempresentasikan tugas mata kuliah Kajian Drama.

SAMPEK ENGTAY lakon versi N Riantiarno yang dipilih kelas itu ditampilkan dengan sangat meriah. Setting panggung yang berwarna merah dan kostum ala china berbahan satin yang mengkilap, didukung alunan musik yang sangat indah dari barisan musik GMT menambah gempita pertunjukan malam itu.

Pertunjukan yang merupakan ajang pembelajaran drama ini adalah tradisi tahunan di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY melalui mata kuliah Kajian Drama yang diampu oleh Dr. Suroso untuk Program studi PBSI dan Bp NUrhadi untuk Program Studi Sastra Indonesia.

Kelas GH menggandeng Gamblank Musikal Teater sebagai pendukung mereka. Sebagaimana disyaratkan oleh Jurusan, mereka diwajibkan menunjuk seorang supervisor untuk menyempurnakan karya mereka. GH dengan naskah Sampek Engtay meminta M Ahmad Jalidu, direktur dan sutradara Gamblank Musikal Teater yang lalu menurunkan skuad GMT untuk membantu di lini artistik terutama Tata panggung dan musik.

Tidak mengherakan, selama 2 jam sepuluh menit, penonton riuh tertawa menanggapi berbagai lelucon yang dikreasi Rizky Ling-ling (sutradara) atas arahgan supervisor M Ahmad Jalidu. 9 lagu aransemen Bahrudin F Bolu pun terdengar sangat apik mengantarkan kemeriahan dan kesenduan adegan-adegan dalam sampek engtay ini.

"Saya sangat menikmati dan saya merasakan suasana menonton pertunjukan yang sangat meriah dan menyentuh. luar biasa sekali." demikian komentar Ibu Pangesti, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY.

Kini manajemen GMT sedang menjajaki kemungkinan untuk memproduksi kembali Sampek Engtay dengan menampilkan Aktor-aktor andalan GMT. Kita tunggu tanggal mainnya.

Jumat, 18 Desember 2009

Refleksi yang seksi dari GMT


ETALASE BONEKA-BONEKA KACA

Menghiasi penghujung tahun ini, Gamblank Musikal Teater Yogyakarta akan kembali menampilkan pertunjukan mereka. Sejalan dengan musim yang tak tentu, di tengah semangat suasana tahun baru Hijriah dan Masehi, juga kesucian Natal, mereka menyajikan sebuah repertoar yang reflektif dan unik.

ETALASE BONEKA-BONEKA KACA, demikian tajuk dari pertunjukan eksperimen GMT ini, ditulis dan disutradarai oleh Agung Wijaya dengan asisten Sutradara Alex Suhendra. EBBK adalah sekuel kedua dari serial Cangkang yang di mulai pada sekuel pertama Mayat-mayat Cinta (2008). Tema yang bersumber pada fenomena keseharian di kalangan remaja dan muda mudi ini terasa cocok benar jika disajikan di Balai Budaya Samirono. Sebuah pendhapa di tengah kampung kost-kostan padat dan penuh dengan hiruk pikuk orang-orang muda. EBBK akan digelar 22 Desember 2009 dimulai pukul 19.45 WIB.

Gaya pertunjukan EBBK tak jauh beda dengan apa yang mereka sajikan bulan April silam dalam Mahabarata Kiss Me Please. Pola akting realisme dengan bloking yang menyebar acak dan menembus batas panggung-penonton, dengan sesekali dipotong oleh mini konser dari sekelompok musisi. Mengenai tema, kali ini Agung Wijaya hendak mengantarkan pertanyaan dan sentilan untuk teman-teman sebaya dan adik-adiknya terutama dari kalangan perempuan berbaju seksi. Mode baju ketat dan minim yang kian hari terus melanda mengamini ”pemanasan global” ini memang mau tidak mau menyita perhatian kita, baik yang ”jengah” maupun yang ”bungah”.

Memanfaatkan kepiawaian akting dari Alex Suhendra, Febrinawan Giant, Triyani Tya, Maftuhah Rahayu dan kawan-kawan, Agung dan GMT memang menghindari sebuah ”kampanye moral” ataupun ”pengajian” terselubung. Akan tetapi lewat EBBK ini ia hendak mempertanyakan kembali, adakah kemungkinan cuaca menjadi kembali menentu? Adakah kemungkinan pakaian benar-benar menjadi sebuah cermin jiwa sebagaimana sesanti jawa ”Ajining raga saka busana” (jatidiri raga dari busana). Andai saja pakaian benar-benar sebuah ”cangkang” atau identitas luar yang mampu merujuk identitas dalam, mestinya pakaian ini mampu menggambarkan style, selera dan kepribadian jiwa yang tertutupinya. Tapi sayangnya hari ini tidak demikian. Keadaan muda-mudi kita lebih bisa dibilang ”anut grubyug ora ngerti rembug” atau hanya ikut-ikutan tanpa tahu apa sejatinya.

”Di kuliah pake baju sangat tertutup lalu, sorenya jalan-jalan santai dengan skuter matic dan hot pants. Aneh kan? Sudah gitu, ditanya kenapa pilih pakaian itu? Jawabnya tidak tahu, atau suka aja. Ini juga tidak hanya pada pakaian seksi-seksi itu, tapi juga pada mode-mode lain seperti gaya punk, metal, jepang dan sebagainya. Semua itu mungkin hasil impresi media dan iklan. Inilah budaya kulit. Budaya cangkang yang tidak sempurna. Padahal toh cangkang telur ayam saja beda sama cangkang telur bebek.” demikian penjelasan Agung Wijaya.

Di barisan musik, Adi Saputra yang dijatah menggantikan Bahrudin F Bolu di meja aransemen lagu menumpahkan kreatifitasnya pada musik dangdut sebagaimana permintaan sutradara. ”Ini adalah tandem baru di GMT, biasanya pasangan sutradara dan musik adalah saya dan Bahrudin F Bolu. April 2009 lalu Alex Suhendra maju sebagai sutradara dan mengaransemen musiknya sendiri, dan sekarang Agung dan Adi. Mereka kelihatannya klop. Bagi saya ini sangat membanggakan, tidak ada dominasi person, semua berkesempatan sama dan kami semakin menikmati hoby ini.” ujar M Ahmad Jalidu, ketua GMT.

Pertunjukan ini didukung sepenuhnya oleh Balai Budaya Samirono dan Sindikat Daya Guyub. EBBK terbuka untuk umum dan tidak menjual tiket. Akan tetapi para penonton dipersilakan memberikan ”saweran” atau sumbangan dalam amplop. ”anggap saja Anda sedang njagong manten.” celetuk Jalidu dengan tawa renyah mengakhiri penjelasannya. Informasi mengenai pertunjukan ini dapat diperoleh melalui 08562856610.



TIM KERJA

Penulis Naskah dan Sutradara : Agung Wijaya
Asisten Sutradara : Alex Suhendra

Aktor : Alex Suhendra
Maftuhah Rahayu
Triyani Tya
Febrinawan Giant
Rio Handziko
Hevi Nugraheni
Dewi Wijayanti
Wirastuti
Magdalena Wulan
Rizkha D Ridwan

Song Composer : Adi Saputra

Musisi : Adi Saputra
Bahrudin F Bolu
Nucky Sulistyo
Tyas Kusumawan
M Ahmad Jalidu
Adit
Sugito HS
Yeri Eka P

Sound Engineer : The Marnos

Produser : M Ahmad Jalidu
Asisten Produser : Muchammad Muadib

Desain Grafis dan Foto : Wiwis Sagulma Design


Gamblank Musikal Teater Yogyakarta
http://teatergmt.blogspot.com
email : zonagamblank@yahoo.com
FB : Gamblank Musikal Teater

Minggu, 22 November 2009

KAOS GMT MONOCHROME EDITION













Dear penyuka GMT. Menandai persiapan produksi terbaru, ETALASE BONEKA-BONEKA KACA, Manajemen GMT kembali akan meluncurkan Merchandise terbaru berupa sebuah T-Shirt.
T-Shirt bergambar logo GMT ini akan diluncurkan bulan Desember.

Kaos ini bebas dimiliki oleh siapapun baik, aktor, pengurus, penggemar maupun siapapun Anda. Kaos ini dijual secara pre-order dengan harga Rp 35.000,00 (belum termasuk ongkos kirim untuk luar Jogja).

Yang menarik dari kaos Monochrome Edition ini adalah diproduksi dalam bermacam warna sehingga Anda bisa tetap tampil beda meski di tengah-tengah sesama pemakai kaos GMT sekalipun.

Segera pesan melalui HP 08562856610.
pastikan Anda melewati akhir tahun dengan kaos GMT yang keren dan manarik.

Salam

Direktur
Didik Adi Sukmoko

Rabu, 07 Oktober 2009

Solo Songlit Alex Suhendra : LELAKI YANG TERINDAH

SAKSIKAN ...

Solo Songlit
LELAKI YANG TERINDAH
Alex Suhendra


Lab Teater SMK 17 Magelang.
Jl. Elo Jetis no 17 Magelang

30 Oktober 2009 | 19.35 WIB

Tiket Rp 5.000.00

Solo Songlit adalah pertunjukan monoplay yang merengkaikan lagu-lagu di dalam monolog. Lelaki yang Terindah akan ditampilkan sendiri oleh Alex Suhendra dengan mengambil dasar cerita berdasarkan cerpen Lelaki yang Terindah (Seno Gumira Ajidarma) dan lagu-lagu original karya Alex Suhendra.

Informasi :
Jali 08562856610

Senin, 13 Juli 2009

GMT COUSTIC menggoyang Konfrensi Kampung

GMT Coustic secara mendadak diminta oleh panitia sarasehan kampung budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi International dan Festival Kampung di Balai Budaya Samirono 11 Juli 2009 lalu. Acara tersebut berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Namun GMT coustic tampil pada oukul 19.30 WIB bertepatan dengan pemotongan tumpeng dan pembukaan sarasehan olek Kepala Desa Catur Tunggal.

GMT memainkan 4 lagu termasuk 2 lagu karya Giwang Topo. malam itu GMT coustic diperkuat oleh Jali (gitar, vokal), Mawan (gitar), Adi (Bass), Giwang (Biola, backing vokal).

Pagi harinya mereka juga kembali menggeber lagu-lagu kenangan dan religi di perhelatan pernikahan Thifa dan Fikri di Asrama Haji Yogyakarta. Ditambah dengan kekuatan NUcky (perkusi) dan Lina (vokal) GMT Coustic membuat suasana pernikahan itu lebih hangat, cair dan tetap romantis. Selamat buat kalian...

Jumat, 26 Desember 2008

GMT di Ajang Ujian Kajian Drama UNY

Seperti setiap tahun di semester ganjil yang lalu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta mewajibkan mahasiswa yang menempuh mata kuliah Kajian Drama (semseter 5) untuk mementaskan naskah drama pilihan mereka sebagai tugas kolektif kelas. Tradisi yang terus berlangsung dari tahun ke tahun ini selalu melibatkan para penggerak teater di lingkungan UKM2 UNY dan bahkan pihak luar utamanya para alumni.

Tahun ini, GMT tak luput dari kesibukan Kajian Drama. M Ahmad Jalidu telah menerima tawaran salah satu kelas Kajian Drama untuk menggarapa musiknya. Naskah yang dipilih adalah Opera Kecoa karya N. Riantiarno dengan sutradara Faizal dan Supervisor Sapta Sutrisna. Meski awalnya atas nama pribadi, namun akhirnya M Ahmad Jalidu tetap melibatkan beberapa pemusik GMT sepeti Bahrudin F. Bolu, NUcky Sulistyo, Adi Saputra, Giwang Topo dan Sugito HS.

5 lagu yang digarap M Ahmad Jalidu dan tim GMT berasal dari naskah asli OPera Kecoa, mski ada beberpa bagian yang disesuaikan untuk kepentingan rima dan kesesuaian jumlah suku kata dengan irama lagu. Mengenai aransemen semua diciptakan oleh M ahmad Jalidu, kecuali salah satu lagu berjudul JUla Juli Sekuntum Kembang yang hanya dikembangkan dari aransemen versi Guruh Sukarno Putra.

Pertunjukan ini akan dilangsungkan pada hari Kamis, 8 Januari 2009.

Senin, 20 Oktober 2008

GMT Tampil Dalam Parade Monolog di Magelang




Memeriahkan Parade Monolog dalam rangkaian Gold Institute Art Exhibition di SMK YP 17 Magelang, dua aktor GMT turun ke arena. Tidak seperti bisanya, kali ini ada sesuatu yang "ganjil". Apa keganjilan itu? Ya .. karena M. Ahmad Jalidu, yang biasanya hanya berada di barisan musik sambil memegang kendali penyutradaraan ternyata bisa juga jadi aktor.
GMT yang mendapat kesempatan untuk tampil pada hari pertama bisa dikatakan beruntung, sebab pada hari pertama juga diselenggarakan upacara pembukaan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting perteateran Magelang seperti Yefta (Komunitas Gandrung Seni), Budiyono (Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang) dan juga hadir Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Olahraga Magelang.
Dua aktor GMT yang turun adalah M. AHmad Jalidu dan Muchammad Muadib. Tepat pukul 20.00 WIB. M. Ahmad Jalidu dengan sangat energik memperagakan seorang pencerita yang memaparkan kisah unik dua sahabat dari pelosok desa yang berniat ke kota untuk sekedar melihat kereta Api. Berbagai kejaidan konyol sekaligus mengharukan ditampilkan oleh Jalidu dengan cukup intens dan kerap memancing tawa renyah penonton yang di dominasi oleh mahasiswi itu. Lelakone Si lan Man, itulah cerkak karya Suparto Brata yang dibawakan oleh M. Ahmad Jalidu dengan sedikit adaptasi terutama pemadatan cerita dengan tetap memepertahankan bahasa Jawa.
Sementara 45 menit kemudian, giliran MUchammad Muadib, anggota GMT yang jauh lebih yunior dari Jalidu dipandang dari segi umur tetapi cukup bisa mengimbangi penguasaan panggungnya. MUchammad Muadib membawakan cerita berjudul Malangkring Mathingkring Malangut-langut, sebuah cerita pendek karyanya sendiri. Muadib memerankan seorang pemuda desa dari daerah Cilacap yang nekat datang ke Jogja untuk mencari pekerjaan. Setelah sempat menjadi gelandangan dan mengalami berbagai kegagalan memperolah pekerjaan, akhirnya Tajiman, sang tokoh diterima bekerja di warung sate di daerah Gejayan. Muadib juga banyak menampilkan kekonyolan dan keluguan khas orang desa pelosok. Yang lebih menghibur dari pertunjukan kedua ini adalah karena disampaikan dalam bahasa Banyumas (Ngapak). Tentu saja, publik penonotn di Magelang akan tertawa geli mendengar bahasa Banyumas yang asing bagi mereka.
"simpel, lugu, tapi malah bergizi. ini yang saya suka dari karya-karya Jalidu dan GMT-nya". Demikian komentar Yefta, aktifis Komunitas Gandrung Seni yang sering mendatangkan seniman-seniman nasional ke kota Magelang.

Jumat, 29 Agustus 2008

Diskusi Marketing Plus on Theater : Membuka Wacana


Yogyakarta. Kelompok Sekrup, unit kegiatan seni FMIPA UNY bekerja sama dengan Gamblank Musikal Teater (GMT) menyelenggarakan diskusi menarik seputar dunia teater. Diskusi dengan tema Marketing Plus on Theatre ini diselenggarakan pada Minggu 24/8 2008 jam 19.00 WIB di ruang sidang gedung Student Center Universitas Negeri Yogyakarta. Tampil sebagai pembicara dalam forum itu adalah Ikun Sri Kuncoro, pengamat pertunjukan Yogyakarta dan Suryono Ekotama, Direktur Smartpreneur Business Club.
Ikun SK membuka uraian dengan menyoroti opini dari pelaku teater sendiri yang harus direvisi atau direnungkan ulang. Opini tersebut salah satunya adalah pendapat bahwa publik penonton teater dianggap sebagai pembeli tiket yang berasal dari sesama pelaku teater saja. Padahal, setidaknya ada tiga golongan penonton yang bisa dijadikan sasaran tembak marketing pertunjukan teater. Golongan pertama adalah penonton pasif, yaitu mereka yang datang sekedar menikmati saja. Golongan kedua adalah Penonton kreatif, yaitu mereka yang juga pelaku teater yang menonton untuk mencari referensi artistik. Golongan ketiga adalah reporter media yang menjadikan peritsiwa teater itu sebagai barang dagangan melalui penulisan berita. Sementara itu ada lagi satu golongan konsumen pertunjukan yang lebih besar, yaitu institusi/lembaga yang sering kita sebut “sponsor”.
Suryono, yang seorang konsultan bisnis memaparkan bahwa dalam marketing plus ada empat aspek yang harus digarap secara terpadu, yaitu konsep dan kualitas produk (tema dan visi artistik pertunjukan), tempat pertunjukan, harga jual dan metode promosi. Dalam menjalankan keterpaduan keempat aspek ini Suryono menekankan pentingnya seorang ahli lobying yang mampu merangkul banyak pihak baik untuk meminimalisir biaya produksi (kerjasama diskon sewa gedung, property, kostum, promosi dsb) maupun sebagai sumber biaya produksi (sponsor fresh money).
Lebih lanjut Ikun Eska menekankan bahwa sebuah pertunjukan teater memerlukan divisi Public Relation dan media relation yang jitu untuk menghembuskan isu pada calon penonton jauh-jauh hari sebelum pertunjukan, juga penyusunan proposal dana dengan berbagai versi disesuaikan pada karakter dan selera lembaga yang kita tuju. Sedang Suryono memberi pesan bahwa sebuah group teater harus terus meningkatkan kemampuan, mematangkan konsep produk dan setia pada style serta menajamkan kesesuaian tema dengan kebutuhan masyarakat. Diskusi ini berjalan selama sekitar 2 jam dan diakhiri dengan pernyataan pembicara bahwa teater masih harus terus bergerilya.
Forum itu dihadiri sekitar 30 orang dari berbagai komunitas teater kampus seperti kelompok Sekrup, GMT, Unstrat, Sanggar Nuun, Teater Parkir, Teater Gajah Mada, Teater Bumi dan sebagainya. Dipandu oleh M. Ahmad Jalidu sebagai moderator, perbincangan berjalan santai dan akrab. Penyelenggara diskusi ini, yaitu GMT menyatakan bahwa diskusi seputar manajemen teater ini akan terus dijalankan GMT melengkapi berbagai forum yang sudah ada di Jogja ini. Mari, kita tunggu tema-tema panas mereka berikutnya.


Komentar :
Dayat : Sanggar Nuun
Asik. Seni dan pasar memang tidak bisa dipisahkan. Seni dapat diketahui atau diaplikasikan di pasar dan pasar tidak berkembang tanpa media. Tapi benar, manajemen teater memang harus digalakkan guna mendongkrak teater itu sendiri, cos tanpa tim produksi aktor tidak bisa berkembang dan sebaliknya “Janganlah kau jual karyamu sebelum kau menemukan jawaban atas karyamu.”

Resti : Teater Parkir
Pembahasan menarik, sayangnya temen-temen teater laen hanya sedikit yang datang. Jadi rasanya sepi, kurang seru. Soalnya, dalam sebuah forum diskusi, kita seharusnya bukan sekedar “ngecharge” otak, tapi juga mempererat persaudaraan antar komunitas. Semoga setelah acara tadi, temen-temen mempunyai tambahan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat untuk perkembangan teater seluruh Jogja. Buat GMT dan Sekrup… gue tunggu diskusi berikutnya.