Setelah sukses digelar di Kantor Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman pada 9 Mei 2015 silam, Ngono ya Ngono akan kembali dipentaskan pertengahan Juni nanti. Kali ini, GMT JOGJADRAMA bergandengan tangan dengan sahabat dari kota kelahiran sang sutradara, Magelang. Komunitas Mendut Institut, yang bermarkas di Rumah Buku Dunia Tera, desa Wanurejo, Borobudur Magelang, bersedia membantu menyiapkan tempat untuk pertunjukan kita ini.
Bertempat di pendapa TIC (Tourism Information Center) di Jl. Balaputradewa no. 1, Brojonalan, Wanurejo, Borobudur, kisah tragis Joko dan Eni akan ditampilkan dengan semangat dan ketulusan yang sama sebagaimana kisah ini dibeberkan di Jogja sebulan yang lalu. Jadwal pementasan pasti yang diberikan oleh pihak MI adalah 15 Juni 2015 jam 19.30 WIB.
Edisi Borobudur ini masih tetap membawakan cerita yang sama dan squad yang sama. Ahmad Jalidu, penulis sekaligus sutradara pentas ini mengatakan bahwa tidak ada yang berubah, selalin detil set panggung yang jauh lebih sederhana, itu dikarenakan adaptasi tempat dan penyesuaian kondisi jadwal acara. Acara yang difasilitasi MI ini sejatinya semacam parade teater kecil-kecilan. Diawali dengan pementasan pada siang hari oleh kelompok teater dari salah satu SMA binaan seniman-seniman MI, juga pementasan oleh mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UMM, kemudian malam harinya adalah penampilan GMT JOGJADRAMA. Lagipula, Ahmad Jalidu memang tidak terlalu mementingkan artistik panggung yang terlalu detail. "Sejauh aktor bisa menghadirkan konteks lokasi dalam adegan melalui dialog dan plastis yang pas, itu sudah cukup." demikian ungkapnya.
Ngono ya Ngono adalah sebuah drama yang mengangkat sekelumit tragedi pasangan suami istri. Di dalamnya sarat akan point-point yang sangat patut dijadikan bahan refleksi tentang citra dan dominasi laki-laki dalam rumah tangga dan kaitannya dengan berbagai praktik kekerasan baik fisik maupun non fisik yang dialami perempuan. Jalinan kisah dan alurnya sangat nyata dan bahkan bisa dikatakan true story, sangat banyak kita jumpai di sekitar kita."Saya membaca sebuah buku berisi laporan hasil penelitian Rifka Annisa di beberapa wilayah di kota Yogyakarta. Dari berbagai kasus yang dicatat dan dituangkan dalam buku itu saya comot dan saya rangkai menjadi kisah Ngono ya Ngono." kata Ahmad Jalidu.
Sebelumnya, Ngono ya Ngono dipentaskan atas dukungan penuh dari Rifka Annisa Women Crisist Center dan Aliansi Laki-laki Baru dan digelar sebagai salah satu bentuk kampanye alternatif untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sementara kali ini di Magelang, Rifka Annisa tidak lagi menjadi penyokong dana utama. Pihak GMT JOGJADRAMA sampai menjual kaos secara online di jejaring sosial facebook untuk menutup biaya produksinya.
Kami sendiri menikmati karya ini, dan berusaha menyerap nilai-nilainya menjadi salah satu penyokong kepribadian kami. Sehingga pementasan di Magelang ini kami jalani dengan penuh semangat dan ketulusan. Kami sangat ingin terus mementaskannya di berbagai kota lain dengan dukungan dari mana saja. Jika Anda tertarik, silakan menghubungi kami. :)
GMT JOGJADRAMA (dahulu Gamblank Musikal Teater) adalah bagian dari komunitas Teater Jogja atau Teater Yogya atau Teater Yogyakarta dan Teater Indonesia. JogjaDrama menekuni model Teater Musikal dengan konsep simpel. Kami terdiri dari pekerja, aktor, musisi dari berbagai latar belakang. Saat ini GMT JogjaDrama bersekretariat di Bale Budaya Minomartani, Ngaglik, Sleman | email : gmtjogjadrama@gmail.com | cp. 08562856610
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 06 Juni 2015
Sabtu, 23 Mei 2015
GALANG DANA Pementasan GMT JOGJADRAMA Jual KAOS!!
Halo Sahabat, Setelah sukses digelar di pendapa Kantor Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman, Drama musikal "Ngono ya Ngono" akan dipentaskan lagi di Pendapa TIC Borobudur, Magelang pada 15 Juni 2015 dan juga di Salatiga (masih dalam pembicaraan).
Untuk mendukung kebutuhan biaya pementasan, GMT JOGJADRAMA menjual merchandise kaos seperti dalam gambar. Kaos tersebut dijual secara pre-order seharga Rp 80.000.
Untuk memesan kaos tersebut, silakan mengirimkan SMS / WhatsApp ke nomor 0856 2856 610 dengan format : NAMA # KOTA ANDA # UKURAN # WARNA
Selanjutnya kami akan membalas dengan memberikan petunjuk pembayarannya. Untuk ANda yang di luar wilayah Yogyakarta dan Sleman, mungkin diperlukan biaya tambahan untuk ongkos kirim.
DEsain kaos tersebut bertuliskan "LELAKI SEJATI Seharusnya Lembah Manah ORA KEMLINTHI" yang dalam bahasa Indonesia artinya "rendah hati dan tidak angkuh". Kalimat tersebut mengandung pesan moral kepada semua kaum lelaki untuk bersikap lebih lembut dan penyayang terutama kepada perempuan dan juga kepada semua manusia. Kalimat tersebut adalah sumbangan dari kawan kami Sugito HS, sedangkan desainnya adalah sumbangan dari kawan kami Erwin Duta Rustaman, seorang desainer dari Poster Gerak Senyap yang merupakan anggota komunitas Folk Mataram Institute.
Jika Anda tidak suka kaos, ANda juga bisa membantu kami dengan membeli buku "BABAD TANAH JAWI" yang diterbitkan oleh Penerbit Garudhawaca. Hasil penjualan buku tersebut selama Mei-Agustus akan disumbangkan kepada GMT JOGJADRAMA.
Ngono ya Ngono, adalah drama karya Ahmad Jalidu yang mengangkat tema citra diri laki-laki dan pengaruhnya kepada kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan dalam pacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga. Pementasan ini akan memainkan 6 lagu dari album "Bertanya Apa Itu Cinta" produksi Forum Pencipta Lagu Muda Yogyakarta dan Rifka Annisa Woman Crisist Center..
Nah, Segera sambar HP ANda dan SMS pemesanan merchandise Anda.
Label:
ARTIKEL,
BERITA,
DOKUMEN PUBLIKASI
Senin, 21 November 2011
Gamblank Musikal Teater - A Destiny of A Man
GMT, Gamblank Musical Theatre (Gamblank Musikal Theater), as its name, is a theater group that specialized on musical play performances, with the local culture symbols. It’s founded in April 13th 2005, after the some of the senior members of SEKRUP (the theater organization in UNY/Yogyakarta University) who were graduated and finished their studies, were forbid to join as the official members. It was Didik Adi Sukmoko, or mostly known as M. Ahmad Jalidu, his staged name, the leader of this theater organization along with the first 15 members, opened the way to the graduates (or the non-graduates who want to join) who still loves to act in play, fulfilling their dreams. It’s obvious that the passion of Didik and his fellow friends in theater are strong, since in the end of year, GMT will perform their newest play, “Nyanyian Rimbayana“.
However, Didik never knew that he would devote his life in theatre, further it’s a musical theatre, when he was young until he was a new student in UNY. Didik, born at April 18th 1979, was studying in Chemistry, the faculty of Science since 1997. Didik has already like art, but only for the music, not for theatre. He was in the band at that time, getting so much influence from the famous band such as Dewa 19. It’s funny that the origin of Didik’s staged name, Ahmad Jalidu, is a parody name from Ahmad Dhani, the member of Dewa 19, which given by his friend at that time.
Furthermore, Didik was chosen to be the leader of new coming Art Organization in his faculty, well, ‘forced’ actually since he wasn’t getting into that at the first but his friends ‘tricked’ him to signed that. However, this is the reason why Didik got involved in theatre for the first time. It was in 1999, when the theatre division under the organization, SEKRUP, should perform for the “Welcoming of the New Students” event in his faculty. Due to the less of the performers, Didik was ‘forced again’ to join this performance. He may not the main actors, but this experience has allowed him to feel the something that made him choose to join in theatre, the feel when acted in the stage, the feel to be watched by audiences.
In 2000, in the lacks of theatre’s lecture, Didik was ‘forced again’ to be the leader of SEKRUP. Inexperienced in theater, Didik joined in other theatre group outside SEKRUP and learned the knowledge of theatre to be used for his own group. His effort also made him to choose the musical theatre, as the other group where he joined in was performing musical theatre, because it’s more entertaining for ordinary people, the audiences.
He was in SEKRUP until 2004, where he ended his study, which also made him not an official member of SEKRUP anymore. However, he and some friends were still passionable to act in play, on the stage, like they used to in SEKRUP. GMT was their answer. In the same year after GMT was founded, they performed “Panggil Aku Aziza”, wrote by Didik himself. Unfortunately, as the non-students performers anymore, they realized that their time was not as free as before. They need to work, since the art performances in Indonesia are not as respected as the big countries in Europe or America. Didik stated that they should lower their passion to be just hobby, an act that the other artists may see as a ‘cowardly’, but Didik realized that for now there’s no other way.
According to that, Didik always have a dream when this country will respect the art works as much as they worth. Sometimes people can’t respect the hard works from the performers in order to make a very good performance. He also wanted to change that the theatre should be heavy, by focusing of the entertainment part of a play. He believes that a play should give a moral message, but not in the level where the audiences feel intimidated, so they always feel comfortable to watching upcoming play. Those are his dreams for now and he also said that he will not give up and will always produce another entertaining works with Gamblank Musical Theatre. (Gitaryan De Valdo – Student of English Literature, Sanata Dharma University - 084214052).
However, Didik never knew that he would devote his life in theatre, further it’s a musical theatre, when he was young until he was a new student in UNY. Didik, born at April 18th 1979, was studying in Chemistry, the faculty of Science since 1997. Didik has already like art, but only for the music, not for theatre. He was in the band at that time, getting so much influence from the famous band such as Dewa 19. It’s funny that the origin of Didik’s staged name, Ahmad Jalidu, is a parody name from Ahmad Dhani, the member of Dewa 19, which given by his friend at that time.
Furthermore, Didik was chosen to be the leader of new coming Art Organization in his faculty, well, ‘forced’ actually since he wasn’t getting into that at the first but his friends ‘tricked’ him to signed that. However, this is the reason why Didik got involved in theatre for the first time. It was in 1999, when the theatre division under the organization, SEKRUP, should perform for the “Welcoming of the New Students” event in his faculty. Due to the less of the performers, Didik was ‘forced again’ to join this performance. He may not the main actors, but this experience has allowed him to feel the something that made him choose to join in theatre, the feel when acted in the stage, the feel to be watched by audiences.
In 2000, in the lacks of theatre’s lecture, Didik was ‘forced again’ to be the leader of SEKRUP. Inexperienced in theater, Didik joined in other theatre group outside SEKRUP and learned the knowledge of theatre to be used for his own group. His effort also made him to choose the musical theatre, as the other group where he joined in was performing musical theatre, because it’s more entertaining for ordinary people, the audiences.
He was in SEKRUP until 2004, where he ended his study, which also made him not an official member of SEKRUP anymore. However, he and some friends were still passionable to act in play, on the stage, like they used to in SEKRUP. GMT was their answer. In the same year after GMT was founded, they performed “Panggil Aku Aziza”, wrote by Didik himself. Unfortunately, as the non-students performers anymore, they realized that their time was not as free as before. They need to work, since the art performances in Indonesia are not as respected as the big countries in Europe or America. Didik stated that they should lower their passion to be just hobby, an act that the other artists may see as a ‘cowardly’, but Didik realized that for now there’s no other way.
According to that, Didik always have a dream when this country will respect the art works as much as they worth. Sometimes people can’t respect the hard works from the performers in order to make a very good performance. He also wanted to change that the theatre should be heavy, by focusing of the entertainment part of a play. He believes that a play should give a moral message, but not in the level where the audiences feel intimidated, so they always feel comfortable to watching upcoming play. Those are his dreams for now and he also said that he will not give up and will always produce another entertaining works with Gamblank Musical Theatre. (Gitaryan De Valdo – Student of English Literature, Sanata Dharma University - 084214052).
Senin, 31 Oktober 2011
SIAPA BILANG HARIMAU JAWA PUNAH?
"Catatan ini diambil dari sumber lain, diposting ke halaman GMT dalam rangka meneriakkan semangat produksi pertunjukan teater musikal "NYANYIAN RIMBAYANA" Desember 2011, sekaligus turut menyemangati upaya-upaya penelitian dan penyelamatan Harimau Jawa."
Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini).
Apakah periode defekasi harimau jawa selama tujuh tahun? Tentu tidak. Defekasi harimau di habitat insitunya dapat terjadi empat kali dalam satu minggu, bergantung pada pemangsaan dan besarnya mangsa. Tetapi mengapa setelah tujuh tahun baru ditemukan kembali feses harimau jawa? Tentu karena tidak ada periset yang memantau keberadaan harimau jawa di TNMB secara kontinyu, walau Jagawana sekalipun.
Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini). Walaupun sampel temuan rambut baru teridentifikasi sebagai milik harimau jawa setelah dianalisis pada tahun 2001 (Kompas, 29/09/2003). Agustus 2004 penduduk tepi kawasan TNMB menemukan feses harimau jawa.
Sebenarnya pada tahun 1993 seorang jagawana TNMB pernah melihat langsung harimau loreng melintas di depan mobil yang ditumpanginya bersama turis asing sewaktu menuju pantai Sukamade (pengakuan langsung kepada penulis tahun 2002). Selain itu pasca ekspedisi PL-Kapai ‘97 pernah ditemukan feses harimau jawa oleh jagawana TNMB di Sukamade pada bulan Mei 1998. Feses tersebut berdiameter 7 cm, dengan pajang 25 cm, terdiri dari dua bolus, mengandung rambut kijang dan babi hutan. Berdasarkan ukuran feses diperkirakan tubuh harimau jawa pelaku defekasi memiliki panjang tubuh sekitar 300 cm dengan berat badan berkisar 200 kg.
Berbagai temuan hasil ekspedisi PL-Kapai ‘97 diyakini milik harimau jawa setelah dilakukan penyaringan data secara ketat. Acuan pembanding bekas aktivitas berasal dari macan tutul dan harimau sumatera koleksi Kebun Binatang Surabaya (exsitu) serta dari TN Way Kambas Lampung (insitu). Setelah tahap penyaringan data dilalui justru diperoleh pengetahuan tentang kriteria ukuran baku bekas aktivitas harimau jawa ?tertuang dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam (terbit 2001).
Pembuktian keberadaan harimau jawa tidak hanya sebatas opini, sebab Desember 1998 diprakarsai Mitra Meru Betiri (MMB) cabang Jogjakarta ?Matalabiogama Fakultas Biologi UGM menyelenggarakan Seminar Nasional Harimau Jawa di UC UGM yang dihadiri oleh 150 akademisi dan praktisi hidupan liar. Seminar nasional itu terselenggara berkat dukungan Indonesian Wildlife Fund dan Sumatran Tiger Project ?(sekarang Sumatran Tiger Consevation Programe?). Pada seminar nasional tersebut dihasilkan 11 poin rekomendasi dan pengakuan eksistensi harimau jawa diberbagai hutan tersisa di Jawa, sehingga perlu dilakukan ekspedisi-ekspedisi susulan dengan melibatkan masyarakat.
Jika di Jogjakarta tahun 1998 dilakukan seminar nasional harimau jawa, pada tahun yang sama di Gunung Betiri seorang pemanen buah kemiri mengaku mengikuti harimau loreng betina dengan seekor anaknya selama tiga jam. Bahkan bulan September 2004 yang lalu, pemanen madu sempat menjumpai jejak macan selebar piring makan. Perjumpaan dengan harimau jawa juga terinformasikan oleh penduduk sekitar hutan lindung di Jawa Tengah.
Keyakinan bahwa eksistensi harimau jawa tidak hanya di ‘habitat terakhirnya’ TN. Meru Betiri digaungkan oleh Tim Pembela dan Pencari Fakta Harimau Jawa (TPPFHJ) Kappala Indonesia ke seluruh Jawa. Sehingga bersama BKSDA Jatim II tahun 1999 dilakukan ekspedisi harimau jawa di luar kawasan Meru Betiri meliputi Gunung Ijen sampai Gunung Raung. Usaha pengumpulan data bekas aktivitas harimau jawa juga merambah kawasan Gunung Slamet Jawa Tengah tahun 1999 dan 2000. Hasilnya diketahui bahwa di Gunung Raung maupun di Gunung Slamet berlandaskan temuan rambut yang dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) masih ada harimau jawa.
Untuk pemfokusan kajian terhadap karnivor jawa, maka sejak 2002 TPPFHJ menyapihkan diri dari Kappala Indonesia menjadi PKJ. Gerakan penyelamatan harimau jawa kemudian dikembangkan ke dunia maya dengan alamat portal: www.javantiger.or.id. Sehingga dunia dapat mendengar bahwa harimau jawa di Pulau Jawa masih eksis dan masih menjadi bahan kajian serius. Terbukti dengan hasil skripsi 4 orang mahasiswa yang berhasil mencapai derajat sarjana (1 dari F.Biologi UGM mengangkat tema rambut; 2 dari Jurusan Biologi F.MIPA Unpad mengangkat tema rambut; dan 1 dari F.Geografi UGM mengangkat tema kelayakan TNMB sebagai habitat harimau jawa).
Perjuangan pembuktian keberadaan harimau jawa yang dilakukan oleh generasi muda Indonesia secara sungguh-sungguh selama bertahun-tahun sampai menguras kocek pribadi, tidak pernah mendapat respon positif dari bangsa ini. Bahkan banyak perilaku yang cenderung menisbikan usaha-usaha tersebut, salah satu contoh tercermin di harian Kompas (29/11/2004) yang mengusung berita tentang punahnya harimau jawa. Termuat di halaman 10 bertajuk: Populasi Harimau Terancam, pada alenia ketiga dituliskan: “Kini tiga dari delapan sub-spesies harimau sudah punah, yaitu harimau bali (1940-an), harimau kaspia (1970-an), dan harimau jawa (1980-an)”. Apakah sumber pengetahuan tentang keberadaan harimau jawa yang dihasilkan oleh anaknegri ini tidak bernilai ilmiah. Ataukah harus ‘bule’ dulu baru bisa diakui ke-ilmuannya oleh bangsa ini? Apakah feses temuan penduduk tepi hutan TNMB yang tersusun dari rambut babi hutan berdiameter 5 cm, panjang 22 cm, mengandung kuku kaki babi hutan pada pertengahan Agustus 2004 bukan milik harimau jawa? Padahal kandungan kuku kaki prey pada feses jelas menunjukkan bekas aktivitas macan loreng, karena macan tutul tidak berperilaku seperti itu.
Menindak lanjuti terhadap temuan feses tersebut Kappala Jember, Balai TNMB, STCP dan PKJ serta PPS Jogja pada akhir Oktober 2004 yang baru lalu bergabung melakukan survey manual selama tujuh hari. Data terbaru yang ditemukan berupa cakaran harimau jawa dengan luka goresan tertinggi 226 cm dari permukaan tanah dan jarak antar goresan kuku 4 cm (dapat disaksikan pada video flip di web ini). Temuan itu penulis simpulkan sebagai bekas aktivitas harimau jawa.
Semoga kasus publikasi temuan homo floresiensis alias manusia kerdil dari Liang Bua tidak akan pernah menimpa Panthera tigris sondaica yang endemik jawa. Dimana usaha pembuktian keberadaan ‘satwa punah’ yang telah dirintis anaknegri selama bertahun-tahun terhapus begitu saja oleh sebuah foto harimau jawa terbaru hasil jepretan peneliti dari ‘luar negeri’ yang selalu didukung dana dan peralatan canggih. Harapan itu akan terwujud jika pers turut peduli terhadap publikasi ilmiah temuan terbaru anaknegri Indonesia sendiri.
Berdasarkan argumen temuan data di atas, akhirnya kepada siapapun yang menyatakan harimau jawa punah, penulis ajukan pernyataan: buktikan bahwa harimau jawa sudah punah!
Didik Raharyono
Kulonprogo, Januari 2005.
Sumber http://www.warta.unair.ac.id
URL http://www.warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=65
Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini).
Apakah periode defekasi harimau jawa selama tujuh tahun? Tentu tidak. Defekasi harimau di habitat insitunya dapat terjadi empat kali dalam satu minggu, bergantung pada pemangsaan dan besarnya mangsa. Tetapi mengapa setelah tujuh tahun baru ditemukan kembali feses harimau jawa? Tentu karena tidak ada periset yang memantau keberadaan harimau jawa di TNMB secara kontinyu, walau Jagawana sekalipun.
Sepertinya ada siklus tujuh tahunan tentang kehebohan harimau jawa di TNMB. Tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut (seperti yang terpajang di web ini). Walaupun sampel temuan rambut baru teridentifikasi sebagai milik harimau jawa setelah dianalisis pada tahun 2001 (Kompas, 29/09/2003). Agustus 2004 penduduk tepi kawasan TNMB menemukan feses harimau jawa.
Sebenarnya pada tahun 1993 seorang jagawana TNMB pernah melihat langsung harimau loreng melintas di depan mobil yang ditumpanginya bersama turis asing sewaktu menuju pantai Sukamade (pengakuan langsung kepada penulis tahun 2002). Selain itu pasca ekspedisi PL-Kapai ‘97 pernah ditemukan feses harimau jawa oleh jagawana TNMB di Sukamade pada bulan Mei 1998. Feses tersebut berdiameter 7 cm, dengan pajang 25 cm, terdiri dari dua bolus, mengandung rambut kijang dan babi hutan. Berdasarkan ukuran feses diperkirakan tubuh harimau jawa pelaku defekasi memiliki panjang tubuh sekitar 300 cm dengan berat badan berkisar 200 kg.
Berbagai temuan hasil ekspedisi PL-Kapai ‘97 diyakini milik harimau jawa setelah dilakukan penyaringan data secara ketat. Acuan pembanding bekas aktivitas berasal dari macan tutul dan harimau sumatera koleksi Kebun Binatang Surabaya (exsitu) serta dari TN Way Kambas Lampung (insitu). Setelah tahap penyaringan data dilalui justru diperoleh pengetahuan tentang kriteria ukuran baku bekas aktivitas harimau jawa ?tertuang dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam (terbit 2001).
Pembuktian keberadaan harimau jawa tidak hanya sebatas opini, sebab Desember 1998 diprakarsai Mitra Meru Betiri (MMB) cabang Jogjakarta ?Matalabiogama Fakultas Biologi UGM menyelenggarakan Seminar Nasional Harimau Jawa di UC UGM yang dihadiri oleh 150 akademisi dan praktisi hidupan liar. Seminar nasional itu terselenggara berkat dukungan Indonesian Wildlife Fund dan Sumatran Tiger Project ?(sekarang Sumatran Tiger Consevation Programe?). Pada seminar nasional tersebut dihasilkan 11 poin rekomendasi dan pengakuan eksistensi harimau jawa diberbagai hutan tersisa di Jawa, sehingga perlu dilakukan ekspedisi-ekspedisi susulan dengan melibatkan masyarakat.
Jika di Jogjakarta tahun 1998 dilakukan seminar nasional harimau jawa, pada tahun yang sama di Gunung Betiri seorang pemanen buah kemiri mengaku mengikuti harimau loreng betina dengan seekor anaknya selama tiga jam. Bahkan bulan September 2004 yang lalu, pemanen madu sempat menjumpai jejak macan selebar piring makan. Perjumpaan dengan harimau jawa juga terinformasikan oleh penduduk sekitar hutan lindung di Jawa Tengah.
Keyakinan bahwa eksistensi harimau jawa tidak hanya di ‘habitat terakhirnya’ TN. Meru Betiri digaungkan oleh Tim Pembela dan Pencari Fakta Harimau Jawa (TPPFHJ) Kappala Indonesia ke seluruh Jawa. Sehingga bersama BKSDA Jatim II tahun 1999 dilakukan ekspedisi harimau jawa di luar kawasan Meru Betiri meliputi Gunung Ijen sampai Gunung Raung. Usaha pengumpulan data bekas aktivitas harimau jawa juga merambah kawasan Gunung Slamet Jawa Tengah tahun 1999 dan 2000. Hasilnya diketahui bahwa di Gunung Raung maupun di Gunung Slamet berlandaskan temuan rambut yang dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) masih ada harimau jawa.
Untuk pemfokusan kajian terhadap karnivor jawa, maka sejak 2002 TPPFHJ menyapihkan diri dari Kappala Indonesia menjadi PKJ. Gerakan penyelamatan harimau jawa kemudian dikembangkan ke dunia maya dengan alamat portal: www.javantiger.or.id. Sehingga dunia dapat mendengar bahwa harimau jawa di Pulau Jawa masih eksis dan masih menjadi bahan kajian serius. Terbukti dengan hasil skripsi 4 orang mahasiswa yang berhasil mencapai derajat sarjana (1 dari F.Biologi UGM mengangkat tema rambut; 2 dari Jurusan Biologi F.MIPA Unpad mengangkat tema rambut; dan 1 dari F.Geografi UGM mengangkat tema kelayakan TNMB sebagai habitat harimau jawa).
Perjuangan pembuktian keberadaan harimau jawa yang dilakukan oleh generasi muda Indonesia secara sungguh-sungguh selama bertahun-tahun sampai menguras kocek pribadi, tidak pernah mendapat respon positif dari bangsa ini. Bahkan banyak perilaku yang cenderung menisbikan usaha-usaha tersebut, salah satu contoh tercermin di harian Kompas (29/11/2004) yang mengusung berita tentang punahnya harimau jawa. Termuat di halaman 10 bertajuk: Populasi Harimau Terancam, pada alenia ketiga dituliskan: “Kini tiga dari delapan sub-spesies harimau sudah punah, yaitu harimau bali (1940-an), harimau kaspia (1970-an), dan harimau jawa (1980-an)”. Apakah sumber pengetahuan tentang keberadaan harimau jawa yang dihasilkan oleh anaknegri ini tidak bernilai ilmiah. Ataukah harus ‘bule’ dulu baru bisa diakui ke-ilmuannya oleh bangsa ini? Apakah feses temuan penduduk tepi hutan TNMB yang tersusun dari rambut babi hutan berdiameter 5 cm, panjang 22 cm, mengandung kuku kaki babi hutan pada pertengahan Agustus 2004 bukan milik harimau jawa? Padahal kandungan kuku kaki prey pada feses jelas menunjukkan bekas aktivitas macan loreng, karena macan tutul tidak berperilaku seperti itu.
Menindak lanjuti terhadap temuan feses tersebut Kappala Jember, Balai TNMB, STCP dan PKJ serta PPS Jogja pada akhir Oktober 2004 yang baru lalu bergabung melakukan survey manual selama tujuh hari. Data terbaru yang ditemukan berupa cakaran harimau jawa dengan luka goresan tertinggi 226 cm dari permukaan tanah dan jarak antar goresan kuku 4 cm (dapat disaksikan pada video flip di web ini). Temuan itu penulis simpulkan sebagai bekas aktivitas harimau jawa.
Semoga kasus publikasi temuan homo floresiensis alias manusia kerdil dari Liang Bua tidak akan pernah menimpa Panthera tigris sondaica yang endemik jawa. Dimana usaha pembuktian keberadaan ‘satwa punah’ yang telah dirintis anaknegri selama bertahun-tahun terhapus begitu saja oleh sebuah foto harimau jawa terbaru hasil jepretan peneliti dari ‘luar negeri’ yang selalu didukung dana dan peralatan canggih. Harapan itu akan terwujud jika pers turut peduli terhadap publikasi ilmiah temuan terbaru anaknegri Indonesia sendiri.
Berdasarkan argumen temuan data di atas, akhirnya kepada siapapun yang menyatakan harimau jawa punah, penulis ajukan pernyataan: buktikan bahwa harimau jawa sudah punah!
Didik Raharyono
Kulonprogo, Januari 2005.
Sumber http://www.warta.unair.ac.id
URL http://www.warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=65
Kamis, 16 April 2009
EKPERIMEN PARAREALIS pada Mahabarata : Kiss Me Please
Dramatika paling benar adalah kehidupan nyata. Inilah basis dari eksplorasi yang kami sebut pararealis itu. Basis ini tidak ada bedanya dengan basis dari realisme konvensional sekalipun. Tetapi dalam praktiknya tentu saja berbeda. Realisme yang sudah dikenal adalah memotret satu scene / satu frame kejadian nyata dan diadaptasi ke atas panggung sehingga panggung berusaha mewujudkan set dan aksi sebagaimana kewajaran nyata. Namun seringkali realisme versi ini dilebihkan dan cenderung sempit serta “cengeng” (dalam kasus tertentu).
Pararealisme menyadari bahwa setiap orang memilki urusannya sendiri, dunianya sendiri yang kami sebut semesta individu. Semesta individu ini lebih banyak berjalan sendiri-sendiri meski sesekali saling menjalin dengan semsesta individu lainnya. Dari sinilah pola adegan diturunkan. Bahwa ketika seseorang melakukan atau mengalami sesuatu, seseorang lainnya juga sedang melakukan atau mengalami sesuatu yang lain. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dan tidak perlu disembunyikan.
Bagaimanapun, ini adalah pertunjukan yang memerlukan story, atau kisah sebagai tulang punggung. Panggung Mahabarata akan tetap menyajikan story itu, namun bukan berarti melenyapkan tokoh-tokoh yang sedang tidak berada di jalur utama story itu. Parallel dengan adegan sebagai story utama, panggung juga akan menunjukkan tokoh-tokoh lain yang sedang menjalani semesta individu mereka sendiri-sendiri. Ini seperti melakukan cropping terhadap masing-masing individu yang lalu di “paste” ke panggung. Yang nampak adalah sebuah adegan semi realis yang dikelilingi oleh adegan-adegan perorangan yang nampak tidak saling terkait. Adegan-adegan samping inilah wujud dari semesta individu. Jika dilihat per-individu, akan tampak sesuatu yang tidak aneh. Misalnya seseorang mengaji, yang lain berjualan, ada yang sedang makan, merokok, chating dsb. Meski karena diperlihatkan dalam jarak yang berdekatan dalam satu area pertunjukan, maka tampak menjadi tidak realis. Inilah yang kami sebut pararealis.
Pararealis bertolak belakang dengan realisme konvensional yang cenderung ingin mengilusi penonton agar larut dalam dramatika yang dibangun. Pararealis ingin mengatakan bahwa, tidak ada ketegangan, kesedihan, atau rasa terancam yang global. Segala emosi berada dalam wilayah semesta individu, atau paling-paling komunal. Secara universal, kehidupan itu selalu tampak biasa-biasa saja, atau sebaliknya, menjadi sangat memprihatinkan.
Pararealisme menyadari bahwa setiap orang memilki urusannya sendiri, dunianya sendiri yang kami sebut semesta individu. Semesta individu ini lebih banyak berjalan sendiri-sendiri meski sesekali saling menjalin dengan semsesta individu lainnya. Dari sinilah pola adegan diturunkan. Bahwa ketika seseorang melakukan atau mengalami sesuatu, seseorang lainnya juga sedang melakukan atau mengalami sesuatu yang lain. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dan tidak perlu disembunyikan.
Bagaimanapun, ini adalah pertunjukan yang memerlukan story, atau kisah sebagai tulang punggung. Panggung Mahabarata akan tetap menyajikan story itu, namun bukan berarti melenyapkan tokoh-tokoh yang sedang tidak berada di jalur utama story itu. Parallel dengan adegan sebagai story utama, panggung juga akan menunjukkan tokoh-tokoh lain yang sedang menjalani semesta individu mereka sendiri-sendiri. Ini seperti melakukan cropping terhadap masing-masing individu yang lalu di “paste” ke panggung. Yang nampak adalah sebuah adegan semi realis yang dikelilingi oleh adegan-adegan perorangan yang nampak tidak saling terkait. Adegan-adegan samping inilah wujud dari semesta individu. Jika dilihat per-individu, akan tampak sesuatu yang tidak aneh. Misalnya seseorang mengaji, yang lain berjualan, ada yang sedang makan, merokok, chating dsb. Meski karena diperlihatkan dalam jarak yang berdekatan dalam satu area pertunjukan, maka tampak menjadi tidak realis. Inilah yang kami sebut pararealis.
Pararealis bertolak belakang dengan realisme konvensional yang cenderung ingin mengilusi penonton agar larut dalam dramatika yang dibangun. Pararealis ingin mengatakan bahwa, tidak ada ketegangan, kesedihan, atau rasa terancam yang global. Segala emosi berada dalam wilayah semesta individu, atau paling-paling komunal. Secara universal, kehidupan itu selalu tampak biasa-biasa saja, atau sebaliknya, menjadi sangat memprihatinkan.
Minggu, 06 April 2008
CANGKANG #1; RELATIVITAS, PARADOKS DAN LAIN-LAINNYA ...

(Sebuah Tinjauan dari Naskah : Cangkang #1)
* Agung Wijaya
a. Mengapa CANGKANG...??; Sebuah Pandangan Pertama...
Istilah cangkang, pada dasarnya merupakan suatu terminologi biologis yang merujuk pada/sebagai penentu determinasi-dentifikasi hewan avertebrata golongan moluska (hewan lunak), yang dapat kita temukan di antaranya pada keong, bekicot dan keluarganya. Jika kita identifikasi, cangkang hewan-hewan ini memliki kekhasan pada struktur dan warna bagi tiap spesies. Strukturnya merupakan bahan kitin, suatu substrat derivat polisakarida seperti halnya kulit telur. Yang menarik, jika kita benar-benar perhatian, struktur ini ternyata menunjukkan fenomena menakjubkan, yaitu bentuk ulir yang berbeda-beda pada hal besar/ukuran, arah ulir dan warna untuk setiap ‘suku’ keong. Fenomena ini, lagi-lagi jika sangat perhatian, merupakan kunci determinasi bagi kita untuk bisa mengenal lebih jauh keberadaan hewan-hewan itu, tentang jenis kelamin atau usia, misalnya. Artinya, cangkang sebenarnya memiliki kedudukan struktur-fungsi yang sangat lebih berarti dari sekadar ‘rumah’ bagi keluarga siput tersebut. Lebih dari itu, fenomena biologis ini merupakan suatu bentuk nilai-alamiah universal (nature-values) yang juga memberi makna bagi dimensi kehidupan yang lain,terutama bagi manusia.
* Agung Wijaya
a. Mengapa CANGKANG...??; Sebuah Pandangan Pertama...
Istilah cangkang, pada dasarnya merupakan suatu terminologi biologis yang merujuk pada/sebagai penentu determinasi-dentifikasi hewan avertebrata golongan moluska (hewan lunak), yang dapat kita temukan di antaranya pada keong, bekicot dan keluarganya. Jika kita identifikasi, cangkang hewan-hewan ini memliki kekhasan pada struktur dan warna bagi tiap spesies. Strukturnya merupakan bahan kitin, suatu substrat derivat polisakarida seperti halnya kulit telur. Yang menarik, jika kita benar-benar perhatian, struktur ini ternyata menunjukkan fenomena menakjubkan, yaitu bentuk ulir yang berbeda-beda pada hal besar/ukuran, arah ulir dan warna untuk setiap ‘suku’ keong. Fenomena ini, lagi-lagi jika sangat perhatian, merupakan kunci determinasi bagi kita untuk bisa mengenal lebih jauh keberadaan hewan-hewan itu, tentang jenis kelamin atau usia, misalnya. Artinya, cangkang sebenarnya memiliki kedudukan struktur-fungsi yang sangat lebih berarti dari sekadar ‘rumah’ bagi keluarga siput tersebut. Lebih dari itu, fenomena biologis ini merupakan suatu bentuk nilai-alamiah universal (nature-values) yang juga memberi makna bagi dimensi kehidupan yang lain,terutama bagi manusia.
Secara sosio-kultural (budaya), cangkang bisa saja berarti bungkus, baju, kulit, atau sampul, yang melekat dan menjadi kunci determinasi-identitas tiap manusia. Yang perlu kita pahami, arti-arti di atas jangan lantas dibatasi maknanya pada hal-hal fisik-material saja, tetapi merupakan satu kesatuan gejala fenotip (yang dapat diindera) pada diri tiap individu. Misal, jika kita mengidentifikasi seseorang yang tubuhnya tinggi besar, tambun, berkulit gelap, wajah bulat lucu sedkit kusam, rambut gondrong yang kerap kucel, sifat (masih sedikit?) kekanak-kanakan, suka makan (apalagi saat stres!), maka (mungkin) kita dengan cepat dapat mendeterminasinya sebagai Nucky Bom-bom (Pemain Bass, Drum dan Perkusi GMT). Ukuran tubuh, warna kulit, wajah, rambut, tindak-tanduk perilaku, merupakan cangkang bagi putera sulung Budi Sulistyo tersebut yang dikenal oleh lingkungannya.
Kedua makna-kedudukan struktur-fungsi cangkang baik secara biologis maupun sosio-kultural di atas, bermuara pada satu identifikasi-determinasi lain yang menjadi ordinat keduanya, yaitu ikhwal IDENTITAS.
b. Identitas & Relativitas Simbol-Simbol
Identitas, sebagai bentuk konsekuensi penginderaan atas sesuatu, dibentuk atas simbol-simbol yang melekat pada sesuatu itu. Seperti cangkang tadi misal, bersama struktur tubuh si keong yang lunak dan mata-antenanya, merupakan simbol identitas baju/kulit/rumah bagi keong. Secara naluriah-instingtif, keluarga siput memahami makna cangkangnya sendiri sebagai kesatuan fungsional kehidupannya; yaitu sebagai tempat perlindungan organ-organ dalam, tempat berlindung, sekaligus candra identitas spesifik. Di sini, makna simbol ini secara alamiah dibentuk sendiri oleh si empunya cangkang, keong, yang lantas diidentifikasi-interpretasi oleh pihak lain. Artinya, makna simbol cangkang itu merupakan sesuatu yang otonom bagi si empunya, bukan oleh pihak lain.
b. Identitas & Relativitas Simbol-Simbol
Identitas, sebagai bentuk konsekuensi penginderaan atas sesuatu, dibentuk atas simbol-simbol yang melekat pada sesuatu itu. Seperti cangkang tadi misal, bersama struktur tubuh si keong yang lunak dan mata-antenanya, merupakan simbol identitas baju/kulit/rumah bagi keong. Secara naluriah-instingtif, keluarga siput memahami makna cangkangnya sendiri sebagai kesatuan fungsional kehidupannya; yaitu sebagai tempat perlindungan organ-organ dalam, tempat berlindung, sekaligus candra identitas spesifik. Di sini, makna simbol ini secara alamiah dibentuk sendiri oleh si empunya cangkang, keong, yang lantas diidentifikasi-interpretasi oleh pihak lain. Artinya, makna simbol cangkang itu merupakan sesuatu yang otonom bagi si empunya, bukan oleh pihak lain.
Ketika simbol-simbol identitas sampai pada ranah komunitas sosial manusia, maka makna identitas cenderung menjadi berbalik. Bukan lagi sebagai sesuatu yang otonom-personal, tetapi justru menjadi hak komunal sosial. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa kebanyakan identitas individu lebih banyak dibentuk oleh determinasi-identifikasi orang lain, bukan oleh si diri-individu itu. Indikatornya; coba kita ukur, cepat mana kala kita mengidentifikasi-diskripsi orang lain dibanding diri sendiri? Lantas, seberapa detil dan PD kita mau-bisa mengidentifikasi diri sendiri? Meski, sekali lagi, ini merupakan kecenderungan (dominan) dan tidak berlaku general.
Pandangan di atas berujung pada makna ordinat (lain), yaitu RELATIVITAS makna simbol-simbol identitas individu. Artinya, seseorang akan dikenal secara berbeda ketika orang itu diidentifikasi oleh banyak orang, yang jelas memiliki persepsi identifikasi berbeda-beda. Meski simbol-simbol itu real-stated, relativitas ini memberi konsekuensi pada pilihan obyektivitas-subyektivitas identifikasi. Ini yang tampak pada kalimat/dialog Yan-Rista pada babak ke-2. Implikasinya, mengapa dalam mengungkapkan perasaan cinta, harus laki-laki dulu dan bukan perempuan??
Naskah ini mencoba meretas benang merah makna identitas jantan-betina, laki-perempuan. Mengapa ini yang dipilih?? Hipotesis yang dimunculkan adalah bahwa secara sosiokultur, kedudukan-fungsi-daya guna dinamika masyarakat kini lebih banyak didasar-kan dikotomi-identifikasi laki-laki-perempuan, jantan-betina. Sebagai penguat, dalam kajian biologis, identifikasi jantan-betina ini benar-benar menjadi base-view bagi kajian anatomi-fisiologis. Hal serupa bisa kita lihat juga dalam kajian psikologis. Base-view ini berujung pada konsekuensi lain, yaitu pilihan obyektivitas-subyektivitas ini membawa kita pada pusara pertaruhan pilihan identitas dengan segala konsekuensi manfaat-risikonya, termasuk nilai, makna atau kedudukan. Pertaruhan ini yang tersirat-tersurat pada babak ke-1, kata/kalimat Anggi pada babak ke-3.
c. Identitas, Paradoks & (Politik) Kekuasaan
Dinamika kehidupan sehari-hari kadang menghadapkan kita pada hal-hal yang kerap memberi variasi warna hidup. Variasi ini bisa saja berupa hal-hal yang tidak diharap-kan, hal-hal yang lucu/menggelikan, dilematis, atau apapun. Inilah PARADOKS!!
c. Identitas, Paradoks & (Politik) Kekuasaan
Dinamika kehidupan sehari-hari kadang menghadapkan kita pada hal-hal yang kerap memberi variasi warna hidup. Variasi ini bisa saja berupa hal-hal yang tidak diharap-kan, hal-hal yang lucu/menggelikan, dilematis, atau apapun. Inilah PARADOKS!!
Paradoks (kerap) timbul sebagai akibat dari proses interaksi identitas jantan-betina, laki-perempuan. Ketika simbol-simbol identitas begitu dominan terkuak, maka determinasi makna, fungsi atau kedudukan kedua identitas yang antagonis itu menjadi sangat kental. Di sinilah hal yang sangat menarik itu muncul. Kejadian-kejadian pada sitkom Suami-Suami Takut Istri, OB atau Bajaj Bajuri , atau pada film Berbagi Suami, Moulan Rouge, adalah contoh sederhana yang bisa kita nikmati. Dalam ranah realis, peristiwa tragis Lady Di, Jacky Kennedy, Ahmad Dhani-Maia Estianti, atau Rhoma Irama-Inul Daratista, sampai kasus Yahya Zaini-Maria Eva, Nucky-Emi, Adib-Dewi, yakin tidak asing bagi telinga kita.
Lantas, apa akibatnya?? Jawabnya: ABSURDITAS/KEREMANGAN makna!! Sederhananya, saat kita mengalami paradoks-paradoks tadi, sebagian kita kerap kehilangan identitas, tidak mengenal diri, dan sampai mendhalimi diri sendiri. Menangis, menyendiri, stres, bengong, emosional, atau makan banyak-banyak, jalan-jalan sendiri, adalah indikator faktanya. (Hayo ngaku, siapa yang pernah gini!!?)
Persepsi ketak-jelasan identitas diri akibat paradoks membawa kita pada satu pertanyaan sederhana, yang mungkin sepele tapi berimplikasi kuat, yaitu siapa yang lantas (seharusnya/selayaknya) menguasai? Jantan? Betina? Laki-laki? Perempuan? Then, siapa pula yang (harus) menjadi (di)korban(kan)??
Review (& naskah) ini tidak menuntut jawaban absolut! It’s up to you!! Point of view-nya adalah 1) kita lantas bersinggungan dengan wacana (politik) kekuasaan, seperti gender-feminisme, yang (mungkin) kontradiktif dengan basis kodrat. (Lihat lagi kalimat/dialog Dursasana/Hasto, Yan, & Rista). Kontekstulitasnya, sebagai contoh dapat kita temukan pada bentuk-bentuk kultural/budaya & emosional psikologik perkawinan adat Jawa, Batak dan Lampung. 2) Disadari atau tidak, dinamika interaksi identitas ini sebenarnya sebuah sandiwara, atau ‘permainan’ (games), yang kita ciptakan sendiri dengan skenario yang tak-tersurat!! Sederhananya, kadang-kadang alasan mendasar atau prinsipil mengapa bisa timbul rasa suka/sayang terhadap lawan jenis tidak pernah muncul terlebih dulu, kecuali setelah interaksi dalam rentang waktu tertentu. Ironisnya, setelah selang waktu ini, justru kadang kondisi chaos yang muncul, bukan kehangatan-kedekatan yang lebih mesra-intim. Inilah permainan!! Sumpah Drupadi, apa yang dialami Hasto, adalah bentuk kejadian dalam naskah.
Agung Wijaya. Dosen Jurusan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Aktor dan Penulis GMT
Rabu, 02 April 2008
MARKETING PLUS on THEATRE : MENJARING PENONTON TEATER

Oleh M. Ahmad Jalidu*
Ada berbagai definisi pertunjukan teater. Dari banyak versi itu, definisi versi Riantiarno cukup sederhana tapi mengena. Riantiarno menyatakan bahwa pertunjukan teater harus memiliki 3 pilar penyangganya yakni pelaku, tempat (panggung), dan penonton. Keunikan definisi ini adalah menyebutkan adanya penonton sebagai unsur pokok dalam pertunjukan teater. Barangkali ini pula yang menjadi salah satu faktor mengapa setiap pertunjukan Teater Koma selalu sukses dari segi perolehan penonton. Bisa dipastikan mereka (Teater Koma) memang benar-benar melakukan suatu terobosan dalam penjaringan penonton. Meski ini juga melalui proses yang bertahun-tahun dan tidak langsung diraih hanya dalam satu dua kali produksi awal mereka.
Ada berbagai definisi pertunjukan teater. Dari banyak versi itu, definisi versi Riantiarno cukup sederhana tapi mengena. Riantiarno menyatakan bahwa pertunjukan teater harus memiliki 3 pilar penyangganya yakni pelaku, tempat (panggung), dan penonton. Keunikan definisi ini adalah menyebutkan adanya penonton sebagai unsur pokok dalam pertunjukan teater. Barangkali ini pula yang menjadi salah satu faktor mengapa setiap pertunjukan Teater Koma selalu sukses dari segi perolehan penonton. Bisa dipastikan mereka (Teater Koma) memang benar-benar melakukan suatu terobosan dalam penjaringan penonton. Meski ini juga melalui proses yang bertahun-tahun dan tidak langsung diraih hanya dalam satu dua kali produksi awal mereka.
Kondisi tersebut berbeda dengan suasana ruang penonton di Jogja. Jika melihat kepadatan penduduk, jumlah dan frekeuensi pertunjukan di Jogja, seharusnya Jogja juga bisa seperti itu. Namun kenyataannya, angka penonton teater dalam setiap pertunjukan di Jogja hanya berkisar 150-350 penonton per malam. Itupun hanya digelar paling lama 2 malam. Teater Garasi, di mana bisa dikatakan memimpin dinamika teater Jogja sekalipun mengaku hanya mampu meraih sekitar 500 penonton setia. Jika rata-rata pertunjukan teater di gelar selama 2 malam, itu berarti Garasi juga hanya mampu meraih 1000 penonton. Bandingkan dengan Teater Koma yang bisa bertahan selama 15 hari dengan 1000an penonton per malam.
Yang sekarang menjadi penting memang bukan pada membandingkan teater Jogja dengan Jakarta, Koma dengan Garasi atau Gandrik atau yang lainnya, tetapi adalah sebuah pertanyaan, bagaimana perolehan penonton teater di Jogja ini bisa ditingkatkan? Jika kita memilih jawaban optimis, Bisa! Muncul pertanyaan kedua, bagaimana meningkatkan perolehan penonton teater di Jogja? Jawabannya pasti beragam. Bisa jadi setiap group akan memiliki trik sendiri-sendiri.
Dalam sudut pandang manajemen produksi, teater tidak berbeda dengan produk media seperti film, berita, hiburan TV, bahkan produk konsumtif lainnya. Teater menjual tiket, mengharap konsumen yang membeli tiket, sama seperti pabrik susu mengharap masyarakat membeli susu buatannya. Namun agaknya hal ini kurang dieksplorasi oleh pakerja teater Jogja. Tidak banyak (atau bahkan tidak ada) group yang memiliki tenaga marketing dan Public Relation yang bagus. Segalanya dilakukan sambil lalu dan konvensional. Masih lebih banyak yang fokus pada pengolahan aktor dan hal-hal artistik.
Kembali kepada pertanyaan bagaimana meningkatkan perolehan penonton? Kita bisa meminjam rumus-rumus dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah konsep marketing plus yaitu 4P : Product, Place, Price, Promotion. Empat hal inilah yag harus digodog sejak dari perencanaan produksi, proses persiapan, hingga kampanye penjualan tiket. Keempat unsur yang diwakili huruf ”P” inilah yang menentukan sebuah produk yang kita lemparkan ke masyarakat sukses diserap pasar (penonton) atau tidak. Empat P inilah fokus perhatian yang harus saling sinambung dan berada dalam ”unity” yang padat.
Product.
Dalam hal product, sebuah group perlu memikirkan produk yang akan diluncurkan. Apabila kita percaya bahwa teater adalah hal yang penting bagi masyarakat, maka kita tidak bisa mengeluarkan sembarang produk. Kita harus benar-benar paham apa dan bagaimana produk kita ini. Apa kelebihannya dan apa kekurangannya. Penting juga sedikit meneliti selera masyarakat. Bukan semata menuruti ”selera”, tetapi analisis kebutuhan. Pertunjukan model apa yang dibutuhkan (disukai) mayarakat. Tema apa yang mereka sedang butuhkan dan sebagainya. Jika memang ide pertunjukan muncul secara intuitif, tanpa didahului analisis isu yang sedang berkembang, ini masih bisa dijalankan dengan mengkaji kebutuhan masyarakat mana yang bisa dijawab oleh ide produk (pertunjukan) tersebut. Juga masyarakat yang mana yang membutuhkan atau yang akan memetik manfaatnya. Masyarakat umum? Atau sesama pelaku teater? Golongan tertentu? Apa keunggulan produk (pertunjukan) kita dibanding yang lain? Mengapa orang perlu menontonnya?
Place
Place dalam urusan teater bisa berarti tempat di mana kita memprosesnya, di mana kita akan mementaskannya, di kota mana dan di gedung apa. Lebih baik jika gedung sudah kita tentukan. Apabila gedung sudah kita tentukan, maka akan lebih mudah mencipta panggung, bloking, efek dan sebagainya. Tempat pertunjukan ini juga bisa mempengaruhi gaya yang kita pakai. Urusan tempat ini bisa berjalan dua arah. Tempat yang dipilih mempengaruhi produk, atau produk yang sudah dikonsep matang yang akan menentukan tempat mana yang cocok. Ini terlihat sepele, tapi bisa jadi membuat kerepotan jika kita asal ”tubruk”. Selain panggung, place juga perlu dipertimbangkan berkaitan dengan content pertunjukan, misalnya gaya bahasa, gaya ungkap, dan bahkan tema. Bagaimana suhu politik dan pemahaman masyarakat setempat juga perlu dipertimbangkan jika memang itu berkaitan dengan tema kita. Contohnya, pertunjukan yang mengekspose ”nudity” atau ”erotisme” di lokasi semacam pesantren, atau sebuah kampus yang religius tentu saja akan menuai masalah.
Price
Banyak kasus penentuan harga tiket di berbagai pertunjukan yang dilakukan secara asal, ikut-ikutan harga group lain atau harga kebanyakan pertunjukan pada saat yang sama. Memang banyak dasar penentuan harga ini, misalnya dengan membagi biaya produksi plus keuntungan yang ditargetkan dengan perkiraan perolehan penonton, atau dengan alasan lain misalnya saja disesuaikan dengan kemampuan calon penonton. 5 ribu untuk pelajar dan 10 ribu untuk umum. Banyak sekali pilihan penentuan harga. Yang jelas adalah penentuan ini harus mempertimbangkan kualitas produk, dan perkiraan terhadap kemampuan penonton. Jangan sampai kita diprotes karena harga terlalu mahal dengan kualitas pertunjukan biasa, atau karena terlalu mahal bagi jangkauan masyarakat.
Promotion
Apa model promosi yang umum dilakukan group teater? Poster, leaflet, iklan radio, dan press release. Hampir semua pertunjukan teater Jogja menggunakan pola tersebut. Tentu saja itu sudah cukup bagus, namun seringkali tidak menolong karena beberapa hal. Misalnya design tidak menarik, penyebaran tidak efektif tepat sasaran, informasi tidak persuasif dan lain sebagainya. Dalam manajemen bisnis produk baik barang maupun jasa, promosi adalah sebuah unsur penting dalam kampanye produk yang akan berimbas pada penjualan. Teater perlu memikirkan ini dengan baik. Jika kita sudah bisa mendefinisikan produk, menentukan tempat pertunjukan dan harga, itu berarti kita juga sudah memetakan siapa calon penonton kita. Promosi lalu dikaitkan ke sana. Jika komunitas calon penonton sudah kita tentukan, kita baru menentukan metode apa yang bisa memikat mereka, memakai media apa? Posterkah? Undangan door to door kah? Pengumuman audio melalui pengeras suara? Surat atau email? SMS? Melalui pancingan acara lain? Iklan suratkabar? Atau apa?
Setelah media kampanye promosi, baru kita tentukan materinya. Media visual misalnya, golongan masyarakat tertentu bisa jadi sensitif terhadap visual. Untuk memancing remaja usia belasan, kita akan menggunakan pola design grafis yang berbeda untuk golongan bapak-bapak. Kita bisa meniru logika iklan. Lihat saja, iklan obat. Warna kemasan dan ”tone” iklan obat anak-anak berbeda dengan obat dewasa. Warna sampul majalah wanita dewasa, berbeda dengan warna sampul majalah remaja belasan, demikian juga ornamen grafis dan font nya. Selain urusan grafis. Bagus juga untuk meniru produk-produk tertentu yang sudah punya nama. Misalnya untuk memancing ABG putri, kita bisa menggunakan warna ngejreng seperti warna kemasan pembalut yang ditujukan untuk ABG. Kita tidak perlu meragukan karena perusahaan-perusahaan produk massal seperti itu telah melakukan survey yang serius untuk menentukan warna kemasan produknya. Jadi kita bisa ndompleng hasil penelitian mereka. Selain tata grafis, bahasa juga harus kita sesuaikan. Jika pertunjukan kita untuk kalangan 30-an ke atas, maka tidak tepat menggunakan bahasa gaul remaja sebagai kalimat persuasif dalam materi promosi.
Langkah ketiga dalam urusan promosi adalah wilayah sebar dan timingnya. Misalnya saja poster, kita perlu mengkaji apakah efektif penempelan poster di pinggir-pinggir jalan? Apakah efektif penyebaran sejak H-8? Terlalu dini atau malah terlambat? Lalu perlukan menyebarkan publikasi ke seluruh kampus dan desa-desa? Atau cukup hanya di sekitar tempat sanggar kita dan sekitar gedung pertunjukan? Dan sebagainya. Intinya kita harus pertimbangkan cara paling efektif untuk meningkatkan jumlah penonton teater. Bukan berarti kita akan menurunkan derajat teater menjadi sesuatu yang semata berorientasi pasar. Justru ini akan mengangkat martabat teater. Jika capaian penonton maksimal, teater tidak perlu lagi meminta bantuan pemerintah dan berbagai NGO. Tidak perlu lagi ada aktor mengeluh karena berguling-guling selama 3 bulan tanpa dibayar dan sebagainya. Dan semakin banyak penonton teater kita, maka semakin banyak orang yang bisa mendapat manfaat dari teater. Lagipula, kembali kepada definisi, teater itu tegak di atas 3 pilar, pelaku, panggung dan penonton. Semoga sharing ide ini bisa sedikit memantik kreatifitas tak terhingga Anda. Selamat bekerja.
* M. Ahmad Jalidu (nama panggung dari Didik Adi Sukmoko), Direktur Gamblank Musikal Teater.
masjali@yahoo.com. 08175486266
Rabu, 05 Maret 2008
Teater 3G : Bikin Teater Jadi Gokil

oleh Apriyanti*
(artikel ini pernah di muat Kedaulatan Rakyat edisi ... 2007)
Masyarakat era 2007, memang tidak seperti masyarakat 1980an. Dulu kita dengan mudah menonton peristiwa kesenian di Seni Sono, Taman Budaya Bulaksumur, Gelanggang Mahasiswa UGM, Lembaga Indonesia Perancis Sagan, Pendapa nDalem Notoprajan, Pendapa Asdrafi, Kampus IAIN Sunan Kalijaga, Auditorium ISI Kuningan, Bentara Budaya dan Pendapa Tamsis. Bukan saja kuantitas, kualitaspun patut dibanggakan waktu itu. Sangat berbeda dengan generasi 2007 yang lebih lesu karena kurangnya dukungan pemerintah dan mahalnya biaya produksi yang tidak bisa dihindari. Demikian seperti yang ditulis Eko Nuryono dalam tulisan berjudul ”Kesenian di Halaman Rumah” (KR, 27 Mei 2007).
Bagaimana dengan sekarang? Diakui atau tidak, gairah teater memang semakin meredup. Namun, sebenarnya jumlah peristiwa teater di Yogyakarta masih banyak. Di beberapa zona pertunjukan seperti TBY, Hall Teater Gajah Mada UGM, Lembaga Indonesia Perancis, Stage Tejokusuma UNY (dahulu Auditorium ISI Kuningan), Bentara Budaya, Kedai Kebun Forum, Pendopo Teater Garasi dan Taman Budaya Tembi masih sering diselenggarakan pementasan kesenian. Bahkan dalam bulan-bulan terakhir ini hampir setiap minggu kita bisa menikmati sajian teater di tempat-tempat itu. Di Gelanggang UGM misalnya baru-baru ini ada pementasan Sawung Jabo and friends, kemudian ada juga malam apresiasi seni oleh Acapella Mataram & PSM UGM. Di seputaran Kampus UNY, peristiwa kesenian mulai dari seni tradisi ketoprak sampai teater dalam rangka Dies Natalis UNY diselenggarakan sepanjang bulan Mei di GOR UNY, Stage Tedjokusuma dan di halaman kampus. Teater UNSTRAT seminggu lalu juga menyelenggarakan Pentas Tengah Tahun menyusul rangkaian Solo Project monolog dari Teater Garasi. Bulan Juni juga akan dibanjiri banyak peristiwa kesenian dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta XIX.
Sayangnya jumlah pementasan teater yang cukup banyak itu masih dipandang ”lesu” dalam dinamika umumnya. Orang masih terus mendambakan generasi teater yang lebih kreatif, dinamis dan gokil. Beberapa kelompok memang telah melakukan pengembangan kreatif, tetapi lebih banyak yang belum. Alangkah indahnya andai saja kelompok-kelompok teater bergerak dengan semangat muda yang gokil, segokil iklan-iklan TV model baru dan film-film yang kini beredar. Jika teater punya semangat gokil, maka berikutnya akan ”bikin orang jadi gokil!”.
Dunia seni pertunjukan adalah dunia visi, spirit dan antusiasme yang sedikit nakal. Gokil adalah kata yang paling pas untuk mengekspresikan kenakalan teater. Muda, nakal, kreatif, tapi positif. Andai saja teater seperti itu, mampu meninggalkan kesan yang dalam. Bukankah teater adalah ruang untuk merefleksikan kehidupan? Sudah seharusnya kita menyediakan cermin yang tepat dan kalau perlu dipoles lebih bagus agar orang mau mendekat dan akhirnya melihat wajah-wajah mereka sendiri.
Bagaimana menciptakan teater yang gokil? Iklan-iklan mulai gokil, karya sastra popular juga semakin gokil, maka teater harus segera bangkit dan bergerak meng-gokil-kan diri dan masyarakat. Setidaknya ada 3 jalan yang harus dilakukan secara sinergis. Gokil yang kita harapkan dari masyarakat adalah ”reaksi” positif yang mengasyikkan akibat dari ketertarikan terhadap rangsangan yang kita berikan, tetapi gokil bagi teater bisa kita artikan dengan kenakalan kreatif. Gokil bisa juga diartikan Good Skill.
Tiga jalan yang perlu kita tempuh untuk menciptakan Teater gokil, yaitu gerakan Teater 3G. Pertama, Gokil (Good Skill) on Effective Board Management. Manajemen pengurus yang efektif, yang mampu menjaga semangat dan kesegaran sebuah kelompok. Banyak kelompok mengabaikan ini, dan lebih menekankan pada memiliki sutradara cap jempol, aktor cap jempol dan sebagainya. Padahal, tanpa pengurus yang baik, sutradara dan aktor itu hanya akan “butuh dana” tanpa bisa mencari dan memutarnya, karena memang bukan itu tugas dan fungsi mereka. Struktur kepengurusan yang efektif harus dibentuk sesuai fungsi dan kebutuhan, tidak perlu ikut-ikutan kelompok lain atau malah mencontek struktur organisasi jenis lain (non budaya). Jumlah pengurus jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Idealnya jumlah pengurus adalah 3 sampai 5 orang, jika kurang dari 3 kita akan berhadapan dengan sulitnya mengambil keputusan yang tepat, sebaliknya jika lebih dari 5 bisa mengakibatkan iren dalam bekerja. Ini seperti direkomendasikan AACT (American Association of Community Theatre).
Bagaimana dengan struktur kepengurusan? Apakah ada pakem tertentu untuk teater? Sebenarnya tidak ada. Pakemnya hanya satu, ”sesuai kebutuhan”. Bisa saja struktur kepengurusan sebuah komunitas berbeda dengan komunitas lainnya. Ini kembali kepada visi dan misi komunitas. Visi dan misi komunitas jelas menjadi faktor penting lainnya dalam manajemen kepengurusan yang efektif. Ibarat sebuah perjalanan, visi adalah tempat tujuan ke mana kita akan berjalan, lalu kita bisa menentukan misi, kendaraan dan jalur mana yang pas untuk mencapai tujuan dengan efektif. Sebut saja Teater garasi, Teater Gardanalla, Teater Koma dan sederet grup lain, mereka punya struktur dan jumlah pengurus yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri., sesuai dengan orientasi organisasi. Misalnya berorientasi karya seni atau bisnis, maka ini akan mengakibatkan perbedaan pada jenis pekerjaan yang perlu ditangani dan akan memunculkan beberapa jabatan yang berbeda pula.
Kedua, Gokil (Good Skill) on Knowledge and Skill Re-charging. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan. Ini bisa dilakukan melalui berbagai pelatihan, workshop, diskusi, latihan bersama dan sebagainya secara terus menerus. Sebut beberapa wahana yang ada : Actor Studio Teater Garasi, Forum Bebas Nian Teater Garasi. Acting Course Teater Gardanalla, Saturday Acting Club ISI, Forum Studi Seni Pertunjukan di Kedai Kebun Forum, berbagai diskusi yang diselenggarakan komunitas-komunitas tertentu seperti GMT, Teater Toejoeh dan beberapa teater kampus. Membaca berbagai artikel di internet, serta peningkatan wawasan pengetahun umum melalui Koran dan TV. Intinya jika kita mau pintar ya harus belajar, kalau ga belajar ya berarti tertinggal.
Ketiga, Gokil (Good Skill) on Public Invation. Yaitu upaya yang terus menerus untuk memasyarakatkan teater. Banyak yang bisa kita lakukan, misalnya membantu penyebaran info semua peristiwa teater yang kita ketahui ke masyarakat sekitar tempat tinggal dan pergaulan kita. Sebisa mungkin menjaga frekuensi pementasan atau jika memungkinkan meningkatkannya. Menjaga image personal di lingkungan masyarakat baik sikap, perilaku maupun penampilan. Teater modern adalah import dari barat. Tetapi kita hidup di masyarakat yang menilai perilaku, kesopanan dan kepantasan. Jika image kita buruk di masyarakat, bagaimana masyarakat bisa menghormati karya kita? Relasi dalam masyarakat kita adalah relasi emosional. Teater bisa memasyarakat hanya jika pelaku teater memasyarakat secara personal. Jika kita adalah anggota yang dinilai baik di masyarakat, maka semua orang di sekitar kita akan menghargai dan menghormati kita termasuk apa yang kita kerjakan, mereka akan berbondong memenuhi kursi penonton dan dengan penuh semangat bertepuk tangan ketika kita muncul di panggung. Indah sekali kan?
Masih banyak hal yang bisa dilakukan komunitas teater untuk menjadikan teater menjadi lebih gokil, dan tentunya harapan terbesar dari sebuah pementasan adalah diterima penonton karena inovatif, kreatif dan tidak ketinggalan jaman. Jika kita bisa memenej komunitas teater dengan baik, tentu kita bisa membuat teater lebih comfortable, komunikatif, dan lebih mudah diterima masyarakat. Sebuah kiat jitu diperlukan untuk bertahan dalam kondisi budaya saat ini. Setidaknya, gerakan teater 3G untuk mem-bikin teater jadi gokil ini bisa dipertimbangkan. Jika setiap pementasan teater sudah bisa menyedot penonton banyak, maka masyarakatpun akan percaya bahwa teater juga layak menjadi bagian dari mereka. Mungkin ini saatnya komunitas teeater Jogja mulai kembali menciptakan semangat bersama, bergotong royong membangun citra teater dan yang paling penting membuat manajemen teater jadi semakin gokil.
Seorang konsultan bisnis sebesar Charles Handy saja mengatakan “Jika kau ingin berhasil, pikirkan teater!”, itu berarti teater yang baik bisa dijadikan contoh bahkan bagi kesuksesan bidang-bidang lain. Mau membuktikan? Ayo, jalankan gerakan Teater 3G, Bikin Teater Jadi Gokil!
*) Apriyanti. Manajer Administrasi dan Aktris Gamblank Musikal Teater (GMT)
Sabtu, 01 Maret 2008
Mimpi PBU lewat TEATER

Catatan dari Festival Panggung Merdeka, Arisan Teater SMA Magelang.
Oleh M. Ahmad Jalidu
Catatan ini adalah efek renung seteleh terlibat sebagai Juri dalam festival tersebut.
Ada yang harus kau bacakan
Ada yang harus kukabarkan
Cita-cita jalanan dan persetubuhan
Namun aku tahu dari gemetarmu
Kesenyappan inipun adalah reaksimu
Aku paham jika lelehan tangismu
Juga adalah kasih yang menyuburkan
Letakkan saja sapu tanganmu
Biar aku dekap saat kau pergi
22 Juni 2006 kemarin, di sebuah ruang serba guna MAN Kodya Magelang telah terselenggara Festival Panggung Merdeka. Teater Violet MAN Magelang terpilih sebagai tuan rumah arisan teater SMA tahun ini. Arisan yang dulu digagas Dep Dik Nas Kabupaten ini sekarang masih berjalan meski merangkak tanpa bantuan. 6 tim yang berpartisi pasi yaitu Teater Violet MAN Kodya Magelang, Teater Kasih Ibu SMA Muhammadiyah 1 Muntilan, Teater Kurusetra SMA 1 Mertoyudan, Teater Bambu Kuning SMA Candimulyo, Teater Duabelas Tiga SMA Dukun, dan Teater …. SMA 1 Salam.
Banyak hal menarik di sini, salah satunya, tidak ditemukan naskah "standar" yang biasa beredar pada festival teater lainnya. Hanya ada Sumur Tanpa Dasar yang itupun sudah digubah dengan konteks baru. 5 tim lainnya menggunakan cerita karya sendiri baik itu karya sang pembina maupun karya siswa sendiri. Bahkan ada satu tim dari teater Kasih Ibu SMA Muhammadiyah Muntilan yang tanpa naskah tertulis. Memang tidak ada yang bisa menjamin menulis naskah drama dengan kualitas standar, tetapi justru dengan membiarkan mereka menyediakan dan mengkreasi naskah sesuka mereka, maka potensi mereka tidak hanya dalam mengusung kemungkinan penjelajahan konteks, artistik, penyutradaraan, akting, dan tetek bengek lainnya namun juga kemungkinan lahirnya naskah baru, sudut pandang baru dan "bahasa" baru.
Lebih dari itu, mereka menunjukkan “energi potensial” yang luar biasa besar. Semangat mereka melebihi senior-senior mereka di kampus. Lihat saja, mereka mempersiapkan latihan dalam suasana ujian. Beberapa siswa teater itu bahkan “ketiban sial” dan harus mengalami tinggal kelas dan tidak lulus UN. Di tengah kekesalan dan putus asa mereka, mereka memusatkan tenaga pada pertunjukan. Bahkan beberapa peserta mengaku tidak mendapat restu dari kepala sekolah dan nekat meski harus “iuran” untuk mempersiapkan “uba rampe” bagi pementasan. Tak urung sang pembinapun penuh kasih seorang bapak mengawal mereka ke arena festival dan merelakan meninggalkan rapat sekolah. Memberontak? Ya, mereka memang kemudian dianggap memberontak. Namun toh mereka tak pernah bermaksud memberontak sekolah atau kepala sekolah, mereka hanya memberontak nasib dan diri mereka sendiri. Mereka menunjukkan bahwa pada wilayah tertentu, teater adalah wajah lain dari diri sendiri yang bermartabat dan tak boleh digeletakkan di sembarang tempat dan waktu. Itu hak mereka. Barangkali, mereka juga sedang teringat tokoh dalam film Drum line. Di mana sang tokoh utama mendapat “tiket gratis” ke universitas terkemuka lantaran prestasinya sebagai pemain snare drum terbaik di sekolahnya. Mereka mungkin sedang melamunkan impian, mendapat bea siswa PBU (Penjaringan Bibit Unggul) lantaran mengantongi piala aktor dan aktris terbaik, sutradara terbaik, naskah terbaik dan sebagainya.
Gambaran di atas seolah membuai kita untuk percaya bahwa mereka, para siswa SMA yang berteater itu kelak akan menyangga mahkota teater Indonesia. Dan Magelang akan terus melesat menjadi pusat penggemblengan remaja teater sebelum dikirim ke Jogja dan digodog dalam kawah teater kampus dan independen. Belum tentu.
Di tengah keindahan akan semangat mereka itu, ada beberapa hal yang patut untuk terus disempurnakan. Pertama, naskah-naskah “mede in” sendiri itu belum menampakkan dunia yang diambil dari keseharian remaja SMA. Entah kenapa? Apa karena mereka menilai teater itu harus "berat, sangar, intelek (?)" atau apa? Moga-moga tidak. Bisa jadi, ini pengaruh dari alam estetika sang pembina. Beberapa dari pembina ini adalah mereka yang mengalami remaja pada tahun 80-an dan mengalami teater pada masa menjelang sampai dengan 90-an. Takaran yang dipakai mungkin masih terpengaruh jaman itu. Teater Kurusetra umpamanya, menyuguhkan permainan yang paling kental dibanding tim lain. Dengan naskah gubahan sendiri dan tema korban kekerasan politis penguasa, serta konflik internal yang sangat berat dan dalam pada salah satu tokoh utama. Yang kadang membuat janggal adalah masih ditemuinya kata "Nyonya" untuk menyebut wanita tanpa memperdulikan status wanita yang disebut. Perempuan gila di stasiun dipanggil dengan sebutan "Nyonya" oleh tukang sapu stasiun tersebut. Sedangakn saat ini, dalam kenyataan sehari-hari, kata "nyonya" sangat jarang kita dengar. Istri Presiden pun kita panggil "Bu" atau "Ibu". Seorang direktur yang kebetulan kita temui juga akan kita panggil dengan kata "Pak", bukan "Tuan". Barangkali itu kata-kata warisan penjajah yang digunakan oleh pribumi yang sudah "minder" untuk memanggil orang kaya belanda. Tanpa memandang itu, ada alasan lain untuk tidak memakai kata itu, yaitu kenyataan sehari-hari tersebut.
Kedua, kualitas permainan, hal yang paling jelas terlihat adalah, mereka mempersiapkan dengan sangat singkat dan tampil dengan iringan grogi yang cukup jelas. Sayangnya ini juga terjadi pada penyelenggaraan festival tahun-tahun lalu. Kendala itu tidak melulu dari kemalasan dan kegamangan visi berteater mereka, namun juga minimnya support sekolah dalam hal ini. Diakui oleh hampir semua peserta, bahwa support dana sekolah sangat terbatas. Bahkan Sekolah sering tidak mengijinkan mereka mengikuti even semacam ini dengan alasan tidak ada dana. Ketika ada dana pun hanya sedikit sekali jumlahnya hingga tidak jarang, para pembina ekskul nombok dana pribadi demi menampilkan sang murid yang sudah seperti anak mereka sendiri itu ke atas panggung. (Menyedihkan! sekaligus membuat, mereka merasa "kaya" meski secara lahir miskin.
Ketiga, Citra teater masih belum mampu menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”. Selama perhelatan itu, tidak ditemukan siswa yang bukan anggota ekskul teater selain siswa tuan rumah (MAN) dan tak ada guru yang menyaksikan kecuali sang pembina ekskul yang kebanyakan bukan guru, tetapi buruh honorer. Betapa posisi mereka sangatlah tidak terhormat di sekolah. Bisa dipastikan, teater sebagai ekskul menguntungkan karena sekolah mendapat image "peduli" minat siswa, namun sebagai produk budaya, dan gaya hidup, sekolah sama sekali tak peduli.
Keempat, Konsep arisan, dengan tuan rumah penyelenggara bergilir ini tanpa dibarengi dengan support dana dari departemen terkait, sehingga kualitas penyelenggaraan dan kesiapannya sangat fluktuatif karena kondisi keuangan tiap sekolah sangat berbeda-beda. Ditambah kenyataan bahwa sepertinya teater juga bukan prioritas belanja yang penting bagi sekolah-sekolah itu. Festival ini nyaris tanpa visi yang jelas selain merayakan ritual meruang (mencari ruang ekspresi). Festival ini semata lomba tanpa ada diskusi dan workshop untuk “menge-charge” semangat dan energi mereka.
Kelima, 6 peserta yang bergabung kemaren digawangi oleh 6 pembina yang sudah sangat saling akrab akibat seringnya mereka bertemu dalam berbagai even serupa. Sudah bertahun-tahun mereka tak di karuniai "anggota" baru. Kalaupun ada pergeseran itu hanya sekolah sekolahnya. Pak A dahulu membina teater SMA X lalu berpindah membina Teater SMA Y. Sementara teater Fajar, satu-satunya “penjaga” teater modern Magelang kelihatannya belum mampu "membakar" Magelang dengan semangat teater lebih garang lagi. Teater Fajar juga belum mampu melahirkan generasi yang akan menemani kiprah 6 pembina teater SMA yang semakin lama akan semakin jadul dan kelelahan itu.
Namun dengan persoalan tersebut, kita tetap harus kembali kepada “energi” mereka itu. Sungguh sebuah potensi yang amat sayang jika itu tak tersalurkan dengan layak. Harus ada pihak yang selalu setia menghidup acara-acara smacam itu dengan segala cerita pedihnya. Semoga masih terus ada kekuatan yang datang tak terduga. Semoga para kreator di kota-kota sekitar juga tergugah untuk saling “merangsang” dan memburu generasi. Semoga mimpi PBU lewat teater itu semakin mendekat nyata. Amin.
M. Ahmad Jalidu Pehobi Teater asal Magelang, Pimpinan Gamblank Musikal Teater.
Idealis vs Kompromis: Teater Kampus Not Death!

(Artikel ini telah dimuat di Harian Kedaulatan rakyat 4 desember 2005)
LEBIH sepuluh tahun lalu, grup teater Yogya tersebar di tiap kecamatan, namun kini “punah” satu persatu. Hanya beberapa grup saja yang masih “bergigi”. Sementara di kampus mungkin ada seratus lebih grup teater. Hampir semua perguruan tinggi, sampai tingkat fakultaspun memiliki grup teater. Merekalah harapan terakhir teater Yogya. Sayangnya, geliat mereka tak sebanyak dan se-’wah’ jumlahnya. Meski teater adalah tempat di mana dinamika mahasiswa yang aktif dan kritis terfasilitasi, tetap saja mereka terus merosot dan tinggal papan namanya saja. Ada apa gerangan? Apakah ini imbas dari model pendidikan instan? Atau karena masalah dana?
Demikian pertanyaan yang diajukan Isti Dharmaranti S, KR Minggu, 20 November lalu dengan judul Teater Kampus, Harapan Terakhir Teater Yogya? Tulisan berikut ini bermaksud menanggapinya serta turut menambah semangat kawan-kawan penggerak teater kampus Yogya. Sampai sekarang, tidak ada data akurat tentang jumlah kelompok dan pementasannya per tahun. Tahun 2004 lalu, Forum Komunikasi Teater Jogja (FKTJ) pernah mendata ada lebih dari 80 kelompok teater kampus, dan itupun belum angka final — Forum itu terjerat masalah internal sebelum data diselesaikan dengan rapi. Kita bisa membayangkan berapa jumlah pementasan dengan data tersebut. Faktanya, rata-rata mereka memproduksi 1 atau 2 kali pementasan pertahun. Frekuensi ini lebih dipengaruhi oleh sistem perkuliahan yang dibagi ke dalam 2 semester dengan diselingi liburan semester. Biasanya, produksi dimulai pada awal semester dan mementaskannya di akhir semester. Menariknya, frekuensi pementasan ini hampir sama di setiap kampus, meskipun mereka menerima subsidi dana yang sangat bervariasi. Sebagai contoh, Teater Lilin UAJY bisa mendapatkan Rp 15 juta pertahun. Teater Eska UIN Suka dengan Rp 2,5 juta pertahun. Kelompok Sekrup FMIPA UNY dengan Rp 2,6 juta. UNSTRAT UNY bisa mencairkan lebih dariRp 20 juta setahun. Juga, Teater Parkir Fakultas Psikologi UII yang hanya Rp 100 ribu setahun dan harus membanting otak setiap kali melakukan pementasan namun mampu berpentas 2 kali setahun. Itu berarti dana bukan masalah bagi “kehidupan” teater kampus.
Beberapa bulan terakhir (Juli-Oktober), aneka peristiwa bisa menunjukkan dinamika yang masih cukup baik. Teater Gajah Mada UGM menjadi tuan rumah FESTAMASIO (Festival Teater Mahasiswa Nasional Indonesia) sekaligus mementaskan Kethoprak Lesung Jaran Sungsang. UNSTRAT mementaskan Leng di TBY dan Solo. Teater Tangga UMY mementaskan Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Masih ditambah beberapa kegiatan teater kampus yang memang hanya diselenggarakan di kampus masing-masing. Teater Loby Dua STPMD “APMD”, Teater Eska UIN Suka, Teater Manggar AMIKOM, Teater Seribu Djendela USD, Teater Senthir UNWAMA, Teater Lilin UAJY dan Kelompok Sekrup FMIPA UNY adalah contoh yang tidak bisa dikatakan “tertidur”. Mereka masih bernafas dan menggeliat.
Paparan di atas coba menyampaikan, teater kampus masih “bersuara”, walaupun tidak semuanya “gegap gempita”. Tidak semua memasang poster dan spanduk mewah, apalagi mampu membayar gedung TBY. Sementara media cetak? Jangankan menginformasikan akan ada pementasan, sudah datang meliputpun belum tentu memuat beritanya. Jadi, tidak bisa dinyatakan mereka tidur atau pingsan hanya karena kita tak tahu kabarnya. Jangan khawatir, teater kampus masih akan tetap hidup, Teater kampus Not Death! Meski begitu, tetap harus diakui kelesuan itu ada. Bukan dari jumlah pementasan yang dihasilkan. Kelesuan itu adalah menurunnya greget para awak teater dan masyarakat penontonnya. Anggota yang “mretheli” satu-persatu beberapa saat setelah pelantikan sangat biasa terjadi. Seolah tidak bangga berteater. Bagaimana mungkin membanggakan jika setiap kali pentas teman-teman yang menyaksikan mengadukan kelelahan mereka karena “jenuh” atau “nggak mudheng” dengan apa yang disuguhkan? Teater kampus semakin miskin penggemar, anggotanya tak betah bertahan lama. Mereka menjadi “alien” di tengah kerumunan mahasiswa “gaul” yang heboh pergi ke Mataram, menonton band di lembah UGM, dan pergi ke “dugem” atau Game Centre hingga dini hari. Jangan-jangan ada yang salah dengan teater? Setidaknya ada yang salah dengan cara pandang terhadap teater. Jangan-jangan (teater kampus) masih terbawa bayang-bayang kejayaan masa “Musim Semi Teater Indonesia” 20-30 tahun yang lalu. Sampai-sampai masih menimbang teater dengan neraca bertahun 1980an. Tahun di mana tak banyak televisi, belum ada MTV, belum ada VCD, belum ada chatting, dan web cam, juga film ‘Ada Apa dengan Cinta (AADC)’.
Nampaknya perlu disadarkan kembali. Bukankah teater adalah alat komunikasi? Media pencerahan yang bukan hanya bagi penonton, tetapi juga pelakunya. Bukankah teater seharusnya sudah cukup jika ia bisa berdiri secara demokratis? yakni dengan tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat di mana ia berada. Bukan teater yang sok mendahului dan menggurui penontonnya. Tetapi yang tegak di atas panggung bermodal refleksi atas fakta di lingkungan tempat pelaku dan penikmat mengukir hari-harinya. Dalam film atau lagu berbahasa Inggris sering kita jumpai kata-kata berikut: “Time’s Rollin’, Live goes on, and people change.” Teater juga harus rollin’, goes on dan change sesuai dengan perubahan dan pergeseran masyarakat serta jamannya. Sebab teater itu hadir untuk masyarakat.
Teater kampus hendaknya meniatkan diri untuk hadir demi masyarakat kampusnya atau masyarakat mahasiswa secara umum, bukan demi kepuasan para empu pendahulunya. Dharma ke tiga dari Tridharma Perguruan Tinggi pun berbunyi “Pengabdian Kepada Masyarakat”, bukan pengabdian kepada para pelopor dan para ahli. Semoga masih ada hasrat teater kampus untuk terus bergerak, berproses sebagai “komunikasi” kepada penonton masing-masing. Tidak untuk menggurui tetapi sama-sama belajar. Idealisme itu penting tapi “compromise” juga perlu mematangkannya. Kenali kepada siapa kita akan berbicara, gunakan bahasa mereka (dan itu telah dilakukan saudara kita dari kalangan film). Mungkin dengan kesadaran ini, kita bisa menemukan bentuk baru teater yang lebih komunikatif dan bahkan sampai menemukan “musim semi” kembali.
Dunia teater mutakhir sedang disibukkan dengan agenda “mencari bahasa ungkap baru”. Itu artinya bahasa ungkap baru itu belum ditemukan. Teater kampus punya hak untuk sama-sama mencari di sela-sela kehidupan masyarakatnya. Ini akan menumbuhkan aneka “ragam” teater yang penuh “greget” dan suitable bagi masyarakat penonton masing-masing. Melengkapi semangat kethoprak lesung TGM, sandiwara musikal Sekrup, realisme sosial Loby Dua, juga drama absurdnya Eska. Sekali lagi, “Teater kampus Not Death!”. q-c *)
Maulana Ahmad Jalidu, Pimpinan Gamblankmusikal Teater (GMT), alumni dan groupies di Kelompok SEKRUP FMIPA UNY.
Langganan:
Postingan (Atom)


