GMT JOGJADRAMA (dahulu Gamblank Musikal Teater) adalah bagian dari komunitas Teater Jogja atau Teater Yogya atau Teater Yogyakarta dan Teater Indonesia. JogjaDrama menekuni model Teater Musikal dengan konsep simpel. Kami terdiri dari pekerja, aktor, musisi dari berbagai latar belakang. Saat ini GMT JogjaDrama bersekretariat di Bale Budaya Minomartani, Ngaglik, Sleman | email : gmtjogjadrama@gmail.com | cp. 08562856610
Tampilkan postingan dengan label DOKUMEN PUBLIKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DOKUMEN PUBLIKASI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Agustus 2015
PARADANCE #7 | muhibah kecil ke lokasi baru
Haloo...
Teman, Akhir bulan ini PARADANCE akan kembali digelar. Untuk edisi ke-7 ini kita coba melakukan muhibah kecil :). Ya. Kita pindah lokasi. Paradance #1 - #6 telah digelar di Bale Budaya Samirono. Kali yang ke-7 ini kita akan coba mengelar di Balai Budaya Minomartani. Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 5 km dari Samirono. Tetapi pasti dengan lingkungan yang baru, akan tumbuh semangat dan sensasi baru.
6 koreografer / penampil akan kita saksikan nanti. mereka adalah :
Yola Utari
Ah Mamad Si Santri
Gienaneig (Loka Art Studio)
Yemima P (Loka Art Studio)
Dewi Sinta
Aprilia Wedaringtyas
Jangan lupa, PARADANCE terselenggara berkat dukungan Adisukma Inisiatif, Penerbit Garudhawaca, Gardabuku.com dan Balai Budaya Minomartani.
Oke, sampai ketemu 29 Agustus nanti di Balai Budaya Minomartani, Sleman, Yogyakarta.
Label:
BERITA,
DOKUMEN PUBLIKASI,
PARADANCE
Sabtu, 23 Mei 2015
GALANG DANA Pementasan GMT JOGJADRAMA Jual KAOS!!
Halo Sahabat, Setelah sukses digelar di pendapa Kantor Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman, Drama musikal "Ngono ya Ngono" akan dipentaskan lagi di Pendapa TIC Borobudur, Magelang pada 15 Juni 2015 dan juga di Salatiga (masih dalam pembicaraan).
Untuk mendukung kebutuhan biaya pementasan, GMT JOGJADRAMA menjual merchandise kaos seperti dalam gambar. Kaos tersebut dijual secara pre-order seharga Rp 80.000.
Untuk memesan kaos tersebut, silakan mengirimkan SMS / WhatsApp ke nomor 0856 2856 610 dengan format : NAMA # KOTA ANDA # UKURAN # WARNA
Selanjutnya kami akan membalas dengan memberikan petunjuk pembayarannya. Untuk ANda yang di luar wilayah Yogyakarta dan Sleman, mungkin diperlukan biaya tambahan untuk ongkos kirim.
DEsain kaos tersebut bertuliskan "LELAKI SEJATI Seharusnya Lembah Manah ORA KEMLINTHI" yang dalam bahasa Indonesia artinya "rendah hati dan tidak angkuh". Kalimat tersebut mengandung pesan moral kepada semua kaum lelaki untuk bersikap lebih lembut dan penyayang terutama kepada perempuan dan juga kepada semua manusia. Kalimat tersebut adalah sumbangan dari kawan kami Sugito HS, sedangkan desainnya adalah sumbangan dari kawan kami Erwin Duta Rustaman, seorang desainer dari Poster Gerak Senyap yang merupakan anggota komunitas Folk Mataram Institute.
Jika Anda tidak suka kaos, ANda juga bisa membantu kami dengan membeli buku "BABAD TANAH JAWI" yang diterbitkan oleh Penerbit Garudhawaca. Hasil penjualan buku tersebut selama Mei-Agustus akan disumbangkan kepada GMT JOGJADRAMA.
Ngono ya Ngono, adalah drama karya Ahmad Jalidu yang mengangkat tema citra diri laki-laki dan pengaruhnya kepada kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan dalam pacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga. Pementasan ini akan memainkan 6 lagu dari album "Bertanya Apa Itu Cinta" produksi Forum Pencipta Lagu Muda Yogyakarta dan Rifka Annisa Woman Crisist Center..
Nah, Segera sambar HP ANda dan SMS pemesanan merchandise Anda.
Label:
ARTIKEL,
BERITA,
DOKUMEN PUBLIKASI
Minggu, 19 April 2009
Release "Mahabarata : Kiss Me Please" - Antara News
"Mahabarata: Kiss Me, Please" Digelar Teater Gamblang
/
Jumat, 17 April 2009 | 02:31 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.COM--Gamblank Musikal Teater (GMT) Yogyakarta akan mementaskan lakon "Mahabarata: Kiss Me, Please" (MKMP) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 24 dan 25 April mendatang.
"Dalam pementasan yang didukung Kelompok Sekrup Fakultas MIPA UNY itu, GMT memindah uraian kisah Mahabarata ke dalam panggung yang tidak lazim," kata sutradara dan penulis naskah Alex Suhendra di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, sebagaimana semua macam cerita nyata, tidak ada yang jelas antara lazim dan tidak. GMT akan mengatur adegan kisah Mahabarata itu dengan menggunakan lensa imajinasi tersendiri.
Demikian pula teknik suguhan adegan dalam Mahabarata. Bahkan, sebagaimana semangat realisme untuk memindahkan semaksimal mungkin kewajaran sehari-hari ke atas panggung, MKMP tidak menghedaki ada aktor yang diam menunggu giliran.
"Dalam kenyataan sehari-hari, kita selalu sedang melakukan sesuatu ketika orang lain juga sedang melakukan sesuatu. Bahkan, kita cenderung sering kali tampil sebagaimana seorang model dalam fashion show, selalu melintas hanya untuk dilihat," katanya.
Bahkan, sering kali nimbrung dalam kerumunan, berbicara sedikit lebih keras, hanya untuk diperhatikan, hanya untuk melintas meskipun kadang-kadang ada motif lain yang lebih dahsyat, sebuah manuver politik yang berdalih fashion show, yakni hanya ingin melintas.
"Pertunjukan itu pun hanya ingin melintas, tidak ingin menanamkan sesuatu pada pikiran penonton. Benar-benar hanya ingin melintas, sebab kalaupun ini manuver politik cinta, tentu saja kami rahasiakan," katanya.
Pementasan MKMP itu didukung pemain Ahmad Jalidu, Agung Wijaya, Maftu Rahayu, Suyatman, dan Rio Handziko dengan musik ilustrasi oleh
Bahrudin F Bolu.
Dimuat di www.antara.co.id dan www.kompas.com
/
Jumat, 17 April 2009 | 02:31 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.COM--Gamblank Musikal Teater (GMT) Yogyakarta akan mementaskan lakon "Mahabarata: Kiss Me, Please" (MKMP) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 24 dan 25 April mendatang.
"Dalam pementasan yang didukung Kelompok Sekrup Fakultas MIPA UNY itu, GMT memindah uraian kisah Mahabarata ke dalam panggung yang tidak lazim," kata sutradara dan penulis naskah Alex Suhendra di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, sebagaimana semua macam cerita nyata, tidak ada yang jelas antara lazim dan tidak. GMT akan mengatur adegan kisah Mahabarata itu dengan menggunakan lensa imajinasi tersendiri.
Demikian pula teknik suguhan adegan dalam Mahabarata. Bahkan, sebagaimana semangat realisme untuk memindahkan semaksimal mungkin kewajaran sehari-hari ke atas panggung, MKMP tidak menghedaki ada aktor yang diam menunggu giliran.
"Dalam kenyataan sehari-hari, kita selalu sedang melakukan sesuatu ketika orang lain juga sedang melakukan sesuatu. Bahkan, kita cenderung sering kali tampil sebagaimana seorang model dalam fashion show, selalu melintas hanya untuk dilihat," katanya.
Bahkan, sering kali nimbrung dalam kerumunan, berbicara sedikit lebih keras, hanya untuk diperhatikan, hanya untuk melintas meskipun kadang-kadang ada motif lain yang lebih dahsyat, sebuah manuver politik yang berdalih fashion show, yakni hanya ingin melintas.
"Pertunjukan itu pun hanya ingin melintas, tidak ingin menanamkan sesuatu pada pikiran penonton. Benar-benar hanya ingin melintas, sebab kalaupun ini manuver politik cinta, tentu saja kami rahasiakan," katanya.
Pementasan MKMP itu didukung pemain Ahmad Jalidu, Agung Wijaya, Maftu Rahayu, Suyatman, dan Rio Handziko dengan musik ilustrasi oleh
Bahrudin F Bolu.
Dimuat di www.antara.co.id dan www.kompas.com
Sabtu, 18 April 2009
Release "Mahabarata : Kiss Me Please" - Kedaulatan Rakyat
15/04/2009 08:48:23 MERAYAKAN semangat di usia ke-4, Komunitas Gamblank Musikal Teater (GMT) kembali menggelar pertunjukannya. Pada 24-25 April pukul 20.00 mendatang GMT akan mempertunjukkan eksperimen pertunjukan mereka di halaman belakang gedung FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Alex Suhendra, sutradara yang kali ini mendapat jatah menggarap pertunjukan GMT, sekaligus juga menulis naskahnya yang berjudul ‘Mahabarata: Kiss Me Please’.
Banyak hal berbeda dibanding pertunjukan GMT sebelumnya. Salah satunya mengenai sutradara. Ahmad Jalidu, adalah nama yang selalu muncul sebagai sutradara pada 3 pertunjukan GMT terdahulu. “Ini bukan regenerasi, karena Ahmad Jalidu belum pantas dipensiunkan, sementara Alex Suhendra juga bukan generasi di bawahnya. Mereka satu level, hanya masalah pemerataan kesempatan saja,” kata Didik Adi Sukmoko, Ketua GMT, belum lama ini.
Hal lain yang perlu dicatat adalah, dalam pementasan ‘Mahabarata: Kiss Me Please’ nanti akan ditemukan gaya yang jauh berbeda dengan gaya GMT lawas. Tentu saja ini karena pertunjukan ditangani oleh sutradara yang berbeda. Dan yang pasti, Alex Suhendra memang sedang bereksperimen dalam model pemanggungan. Salah satu ekplorasinya adalah bentuk panggung yang tidak lazim dan pola adegannya. “Penonton akan disuguhi sebuah adegan yang tidak bisa dikatakan realisme, tetapi kalau masing-masing tokoh disorot secara parsial, pola aktingnya adalah realisme,” ujar Ahmad Jalidu.
“Kemungkinan-kemungkinan lain, itu yang saya percaya. Kalau sistem pemungutan suara saja bisa terus dieksplorasi berbagai kemungkinannya, apalagi teater yang bagi saya hampir tidak ada batasnya. Masalah lebih menguntungkan yang mana, itu akan terjawab kalau percobaan-percobaan itu telah selesai,” tambah Alex Suhendra.
‘Mahabarata : Kiss Me Please’, cerita dasarnya memang diambil dari petikan kisah Mahabarata, tetapi Alex melakukan transformasi ke masa kini dan menawar kembali asal-usul dan kisah tokoh-tokoh itu. Kali ini GMT menampilkan 6 orang aktor yaitu Alex Suhendra, Agung Wijaya, Ahmad Jalidu, Maftu Rahayu, Rio Handziko dan Suyatman. Untuk menyaksikan pertunjukan ini penonton dikenai harga tiket sebesar Rp 10.000 dengan mendapat bonus perdana Tri plus pulsa Rp 15.000. Pertunjukan ini didukung oleh Kelompok Sekrup FMIPA UNY dan Jaringan GSM Tri. (Cdr)-m
Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 15 April 2009
juga dimuat di www.gong.tikar.or.id
Banyak hal berbeda dibanding pertunjukan GMT sebelumnya. Salah satunya mengenai sutradara. Ahmad Jalidu, adalah nama yang selalu muncul sebagai sutradara pada 3 pertunjukan GMT terdahulu. “Ini bukan regenerasi, karena Ahmad Jalidu belum pantas dipensiunkan, sementara Alex Suhendra juga bukan generasi di bawahnya. Mereka satu level, hanya masalah pemerataan kesempatan saja,” kata Didik Adi Sukmoko, Ketua GMT, belum lama ini.
Hal lain yang perlu dicatat adalah, dalam pementasan ‘Mahabarata: Kiss Me Please’ nanti akan ditemukan gaya yang jauh berbeda dengan gaya GMT lawas. Tentu saja ini karena pertunjukan ditangani oleh sutradara yang berbeda. Dan yang pasti, Alex Suhendra memang sedang bereksperimen dalam model pemanggungan. Salah satu ekplorasinya adalah bentuk panggung yang tidak lazim dan pola adegannya. “Penonton akan disuguhi sebuah adegan yang tidak bisa dikatakan realisme, tetapi kalau masing-masing tokoh disorot secara parsial, pola aktingnya adalah realisme,” ujar Ahmad Jalidu.
“Kemungkinan-kemungkinan lain, itu yang saya percaya. Kalau sistem pemungutan suara saja bisa terus dieksplorasi berbagai kemungkinannya, apalagi teater yang bagi saya hampir tidak ada batasnya. Masalah lebih menguntungkan yang mana, itu akan terjawab kalau percobaan-percobaan itu telah selesai,” tambah Alex Suhendra.
‘Mahabarata : Kiss Me Please’, cerita dasarnya memang diambil dari petikan kisah Mahabarata, tetapi Alex melakukan transformasi ke masa kini dan menawar kembali asal-usul dan kisah tokoh-tokoh itu. Kali ini GMT menampilkan 6 orang aktor yaitu Alex Suhendra, Agung Wijaya, Ahmad Jalidu, Maftu Rahayu, Rio Handziko dan Suyatman. Untuk menyaksikan pertunjukan ini penonton dikenai harga tiket sebesar Rp 10.000 dengan mendapat bonus perdana Tri plus pulsa Rp 15.000. Pertunjukan ini didukung oleh Kelompok Sekrup FMIPA UNY dan Jaringan GSM Tri. (Cdr)-m
Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 15 April 2009
juga dimuat di www.gong.tikar.or.id
Selasa, 03 Maret 2009
Profile GMT di Harian Jogja


Memelihara cinta pada seni
Senin, 23 Februari 2009 09:16:24
Perempuan memiliki peran yang sama dengan laki-laki. Untuk itu perempuan perlu menemukan identitasnya sendiri, agar tak ada hegemoni dan penindasan. Perempuan berhak merasakan kebebasannya. Itulah tema cerita dari Cangkang bagian I dengan judul Mayat-Mayat Cinta yang dipentaskan dalam bentuk teater musikal oleh Gamblank Musikal Teater (GMT) di Gedung Tejokusumo FBS Univeristas Negeri Yogyakarta, April 2008 lalu.
Dalam alur ceritanya, perempuan digambarkan sebagai 2 sisi pribadi yang berbeda, dimana perempuan harus tunduk pada laki-laki, dan perempuan yang memilih hidupnya untuk menjadi lesbian. Entah apa yang akan terjadi antara 2 sisi pribadi yang berbeda ini, penonton pun bebas untuk mengapresiasikannya. Perempuan sepertinya istimewa bagi komunitas ini. Saking istimewanya, cerita yang diproduksi me reka memang lebih banyak mengambil tema ini. Ada Panggil Aku Azisa, The Light of Ken Dedes, serta Cangkang. Bisa dibilang, tema perempuan memang menjadi ciri khas tersen diri dari komunitas ini.
“Perempuan, memang sebuah objek yang menarik untuk dikaji dan dipelajari lebih mendalam. Hidupnya yang penuh dengan kedinamisan dan kiprahnya yang bisa beranekaragam memang membuat semua pihak bisa mengekplorasinya lebih dalam. Perempuan mempunyai potensi strategis dalam arus pergeseran masyarakat,” papar Jalidu, Ketua GMT Komunitas GMT yang berdiri tanggal 13 April 2005 ini, memang sangat konsen ke dalam seni pertunjukan khususnya musikal teater. “Musikal teater adalah mengolah pertunjukan yang memadukan unsur teatrikal dan musik,” papar Jalidu. Karena jenis yang mereka pilih lebih dominan pada musikal teater, maka GMT mendapat predikat sebagai grup teater yang berada di jalur musikal. Jalidu memandang bahwa musikal teater lebih menarik dibandingkan teater konvensional. “Teater musikal ini lebih
bisa menghibur penonton, karena itu kami memilih konsen ke dalam jenis teater ini,” papar Jalidu.
Komunitas ini memang terdiri dari orang-orang yang memang menyukai seni khususnya seni pertunjukan. Pasalnya, para pengagas awal, M.Ahmad Jalidu, Bachrudin F. Bolu, serta Agung Wijaya adalah anggota dari kelompok Sekrup, sebuah kelompok seni pertunjukan di FMIPA UNY. Setelah kuliah ketiganya selesai, otomatis me reka lepas dari kelompok tersebut. Karena saking cintanya pada seni pertunjukan, mereka tetap ingin eksis di dunia tersebut, bahkan bisa menciptakan sebuah seni pertunjukan sendiri. “Daripada hobi main teater dan musik ini hilang, maka kami mencoba membuka komunitas ini,” ungkap Jalidu.
Wadah pergaulan
GMT memang dibentuk dengan tujuan menjadikan teater sebagai wadah pergaulan dan pilihan aktivitas sosial yang menyenangkan dan bermanfaat terutama bagi diri sendiri dan stakeholder lainnya. Tak hanya itu, GMT juga menjadi wadah bagi angotanya untuk berkreativitas ke dalam seni pertunjukan. “Maka dari itu huruf ‘K’ pada kata gamblank memang menjadi cerminan anggota kami,”papar Jalidu Awalnya memang belum banyak yang ikut dalam komunitas ini. Selama 4 tahun berjalan anggotanya sebanyak 23 orang. Selain memproduksi sebuah cerita dan mempertunjukkannya, mereka juga sering diminta oleh membantu pihak lain untuk mengisi acara mereka. Misalnya saja, mereka ditunjuk sebagai bintang tamu dalam Festival Musik Kreatif Magelang, penyaji dalam Parade Band Amal Peduli Jogja, dan sebagainya. Tak hanya mendukung pihak eksternal saja, mereka juga sering mengadakan forum diskusi di bidang seni pertunjukan. Ada diskusi tentang masalah penyutradaan, menjual teater, serta marketing plus on theatre.
Ketika berbicara mengenai produksi mandiri yang dilakukan oleh GMT ini, Jalidu mengakui bahwa penonton pertunjukkannya memang terbatas pada sebuah komunitas. Inilah yang kemudian menjadi kendala bagi kelompok ini untuk pentas dalam area yang besar dan pengunjung yang banyak. Maklum saja, sejak lahirnya komunitas ini, GMT hanya pentas di lingkup kampuskampus saja.
Meski begitu, mereka tetap optimis dengan pentas yang mereka adakan. Bahkan mulai Maret ini, GMT mulai memproduksi musikal teater dengan improvisasi sendiri dengan menggunakan cerita Bharatayudha. GMT mencoba untuk mengolah kreativitas me reka tanpa dirancang terlebih dahulu dalam naskah cerita. GMT memang benarbenar ingin memaksimalkan potensi seni mereka.(Lewi Pramesti HARIAN JOGJA)
Selasa, 15 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)


