Tampilkan postingan dengan label ULASAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULASAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2016

PARADANCE #10 dilirik luar Jogja.




Para penari dan koreografer penampil karya di Paradance #10.
Pergelaran seni gerak dan tari bertajuk PARADANCE yang diprakarsai  Nia Agustina dan Ahmad Jalidu dengan bendera GMT Jogjadrama, akan menginjak edisi ke-10 pada 25 Maret 2016 lalu. Acara rutin setiap dua bulan sekali ini telah dimulai pada Maret 2014 dan sudah  mementaskan hampir 50 karya tari dan pantomime dari seniman-seniman muda di bidang gerak dan tari di Yogyakarta.

Meski acara diformat sederhana,  antusiasme peserta yang terus ada menandakan bahwa program ini memang dibutuhkan utamanya bagi para koreografer muda yang hendak mempresentasikan karya-karya pendek di hadapan public. Tak hanya itu, acara ini juga sudah mulai dilirik oleh pihak-pihak di luar JOgja.
Sebagai bukti, acara ini telah membuat penasaran seorang dedengkot seni tari nasional, Maria 
Dharmaningsih, direktur Indonesia Dance Festival sekaligus dosen di Jurusan tari Institut Kesenian Jakarta yang menyempatkan diri datang menonton Paradance #9 pada Januari 2016 silam. Selain itu, pada Paradance #10 yang lalu, satu dari 8 penampil yang siap adalah Raka Reynaldi, seorang koreografer muda dari Bandung yang juga bekerja sebagai asisten dosen di Jurusan Pendidikan Seni Tari di UPI Bandung. 
Selain kedatangan Raka jauh-jauh dari Bandung, Paradance #10 nanti juga cukup kaya akan tema. Raka bersama 4 penarinya membawakan karya tarinya berjudul “Nur” yang menyorot maraknya perekrutan gerakan-gerakan atau organisasi apatis berbaju religi. Di kelompok lain ada juga kelompok tari dari lingkungan berbasis religi yaitu Adab Dance Community, sebuah kelompok UKM bidang tari di lingkungan Fakultas Adab dan Budaya UIN Sunan Kalijaga. Tentu saja, ini menjadi sesuatu yang unik di Paradance karena para penari ADC menggunakan kostum tari yang anggun mewah dan tetap syar’i. 

Enam penampil lainya juga mewarnai Paradance #10 lebih variatif lagi. Meski keenamnya adalah komunitas dan koreografer yang saat ini tinggal di Yogya, namun mereka berlatar belakang etnis dan wilayah lain yang tentu akan membuat karya mereka lebih unik. Sebut saja, Bagus Bang Sada, pemuda Bali yang saat ini belajar tari di ISI Yogyakarta. Ada juga Nabilla Zainal yang berasal dari Lampung dan sedang menempuh pendidikan pasca sarjana di Yogya. Sementara Yessi Yoane dengan karya bersumber dari Yoga, Assabti Nur Hudan dengan kreasi bergaya animal pop, serta duet Elisabeth Nila dan Etta Ayodya berhasil menghebohkan penonton yang berdesakan dengan tarian extravaganza mulai dari modern dance, latin hingga joget dangdut lengkap dengan iringan music dari potongan lagu “Pokoke Njoged”. Mereka semua adalah koreografer muda Yogya yang cukup aktif saat ini. Satu lagi yang unik dan tak pantas dilewatkan adalah kehadiran komunitas Bodynesia, sebuah kelompok seni dari mahasiswa-mahasiswi jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Mahasiswa etno menari? Ya, ternyata mereka bisa dan tentu saja bagus. Memadukan seni gerak dari berbagai aksen tari tradis Nusantara dengan seni acapela dan body percussion yang memukau.
Meski acara molor sekitar 45 menit karena cuaca hujan, namun acara berjalan dengan lancan dan penonton berjubel di tengah dingginya malam. *AJ

Penampilan komunitas Bodynesia

Duet Elisabeth Nilla dan Etta Ayodya

Raka Reynaldi, dan para penarinya dalam karya berjudul NUR

Olah tubuh dari bentuk-bentuk dan filosifi Yoga, menjadi karya yang kontemplatif berjudul UOG(Y)A karya Yessi Yoanne.




Rabu, 01 April 2015

Karya Baru atau Basi di PARADANCE




Hafida Kholifatul Jannah, membawakan karya "Moksa" di PARADANCE #6. Foto oleh Ari Kusuma.
Meski kecil dan sederhana, panggung PARADANCE telah berjalan hingga 6 kali. Tidak dengan susah payah, tetapi dengan ceria dan apa adanya. Semuanya dilakukan dan dilakoni dengan kesadaran penuh atas kemampuan dan kemauan. Dari edisi awal yang rata-rata menampilkan 5 atau 6 nomor karya, kini sudah menjadi 8 karya pada edisi 5 dan juga edisi 6. Kami bisa mengatakan bahwa kami sementara ini termasuk berhasil, sebab dari semula memang acara ini digagas dan digulirkan sebagai ruang unjuk karya, bukan sebagai sebuah produk tontonan yang melulu diukur dari seberapa banyak dan histerisnya penonton. Karenanya, pada edisi 6 ini saya tiba-tiba memikirkan para penampil.

Tidak semua, tetapi hampir semua, para penampil adalah mahasiswa dan alumni Jurusan Seni Tari ISI Yogyakarta dan Jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta. Mereka semua mendapat bekal ketrampilan gerak tari. Puluhan atau ratusan ragam gerak tradisional yang diajarkan kampus, juga berbagai kosa gerak kontemporer hasil pengamatan dan pengalaman mereka di banyak panggung. Dengan kekayaan kosa gerak tersebut, mereka semua bisa dengan mudah memilah dan merangkai gerak-gerak untuk disinkronkan dengan tema dan musik yang mereka tentukan sendiri. Dengan potensi kekayaan itu pula, tampaknya membuat sebuah koreografi tari, apalagi yang ditarikan oleh diri mereka sendiri terasa sangat mudah. 

Di setiap edisi PARADANCE, MC selalu akan mengajak penari/koreografernya berbincang sebentar usai mereka beraksi, sembari menanti persiapan penampil berikutnya. Dan MC seringkali mengajukan pertanyaan, “Prosesnya berapa lama?” atau “persiapannya berapa lama?” atau “latihan berapa lama?”. Pertanyaan ini seringkali dijawab dengan senyum ceria oleh para penari. Jawabanya tentu bervariasi, namun saya terusik bahwa ternaya ada yang waktu persiapannya sangat pendek. Ada yang 2 minggu, ada yang 5 hari, bahkan ada yang menjawab “baru tadi malam latian”… 

Mendengar jawaban itu, biasanya MC akan berkomentar “wowwww?” atau semacamnya yang menunjukkan pujian (entah tulus atau tidak) dan tak jarang ditambah dengan mengajak penonton bertepuk tangan. Jawaban itu mungkin akan menunjukkan kesan “betapa kreatifnya” para penari ini. Mampu membuat sebuah rangkaian tarian yang unik dan indah hanya dalam semalam atau beberapa hari. Tentu saja, sebagai penari atau koreografer, kreatif bukan pilihan, tetapi kewajiban. Mereka mau tidak mau harus mau kreatif. Dan bagi PARADANCE, tentu sebuah kehormatan karena di acara inilah beberapa penari mempertunjukkan satu nomor karyanya untuk pertama kalinya. Ibarat sebuah karya film, di acara PARADANCElah mereka menggelar premier-nya. Kami, dan semua penonton sangat beruntung.

Akan tetapi, sering saya berpikir bagaimana jika sebuah karya, meski hanya sepanjang 4 atau 5 menit, dipersiapkan dalam waktu yang cukup lama, tentu hasilnya akan lebih matang. Lha wong yang semalam saja bagus kok. Kalo persiapan lebih lama, mungkin secara teknis akan lebih lancar dan tepat, dan segala hal non teknis seperti kesesuaian seluruh unsur gerak dengan judul dan tema akan bisa lebih maksimal kesatuannya. Saya membayangkan, akan ada para penyaji tari di PARADANCE yang menarikan sebuah karya yang sudah berulang kali ia tampilkan di panggung-panggung lain. Sebuah karya pendek yang indah dan matang. Tentu sah-sah saja. Sebagaimana grup musik juga akan membuat sebuah karya musik yang kemudian dimainkan terus menerus di berbagai kesempatan. Kreativitas tetap bisa ditunjukkan dengan aransemen baru. Ini sudah ditunjukkan oleh beberapa PARADANCER yang pernah tampil membawakan karya yang sama dengan yang mereka pertunjukkan dalam ujian praktik di kampusnya.

Pendeknya, tulisan saya ini hanya menyampaikan, bahwa sebagai penyelenggara, dan sekaligus penonton setia Paradance, saya sama sekali tidak akan kecewa apabila kelak ada penari yang menyajikan karya “basi”nya. Dan tentu saja, sangat terbuka bagi mereka yang pernah tampil di Paradance, kembali tampil di edisi mendatang, dengan karya yang sama yang di”aransemen ulang”. Semoga semua setuju, bahwa kreativitas tidak harus menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi bisa juga dalam bentuk memoles yang lama menjadi lebih bagus. Pastinya bukan masalah baru atau basinya, tetapi lebih kepada matang atau mentahnya. Jika sebuah karya sudah lebih matang, tentu kita melakoninya dengan lebih mantap, lebih nikmat dan akan lebih monumental bagi diri kita sendiri dan penonton yang menjadi saksi.

Apa yang saya bicarakan itu adalah jika sebuah karya memang diniatkan sebagai karya tari yang "well made" atau dicipta dan ditata sedemikian rupa secara fixed and final. Lain halnya apabila ada yang mempertunjukan seni gerak dengan konsep "performance art" yang sering kali mengandalkan pola "here and now" dan mempertunjukkan spontanitas dan respon kondisi lingkungan. Mungkin begitu.
Selamat terus berkarya.

Ahmad Jalidu,
Penulis Naskah dan Sutradara.
Direktur GMT JOGJADRAMA
Produser PARADANCE.

Kamis, 26 Maret 2015

Selalu Ada Alasan untuk Menari : Catatan 1 Tahun Paradance


: Catatan untuk 6 kali dan 1 Tahun PARADANCE.
Nia Agustina, menarikan karya berjudul "Dedes" pada PARADANCE #1, 29 Maret 2014. Foto oleh Sulistya Nucky. Dok. GMT JogjaDrama.

Bagi beberapa orang muda pecinta seni tari di Jogja, mungkin ada yang sudah tahu PARADANCE, dan tentu banyak juga yang belum tahu. PARADANCE adalah sebuah acara terbuka yang menyuguhkan pertunjukan karya tari oleh muda-mudi pecinta seni tari. Acara ini diselenggarakan setiap dua bulan sekali oleh komunitas bernama GMT JOGJADRAMA (dahulu Gamblank Musikal Teater) di Bale Budaya Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman. 

Tulisan ini, saya buat dalam rangka menandai perjalanan waktu yang sudah mencapai 1 tahun sejak pertama kali saya dan sahabat-sahabat saya menyelenggarakan PARADANCE. Lewat tulisan ini pula saya akan menceritakan “mula bukaning” Paradance, beberapa hal yang menjadi tujuan dan yang melatarbelakanginya secara blak-blakan tanpa gengsi sedikitpun

Lebih dari satu tahun yang lalu…
Adalah Nia Agustina, teman dekat saya, perempuan muda yang hobi menari dan mengikuti kursus di beberapa sanggar tari. Nia juga termasuk anggota dari lingkaran komunitas Gamblank Musikal Teater (GMT), dan turut bermain dalam drama musical Nyanyian Rimbayana pada 2011 dan 2012. Pada akhir 2013, akibat dari kebanyakan nonton pertunjukan tari dan terlalu sering bergaul dengan guru-guru tarinya yang adalah mahasiswi ISI, Nia mengajukan usul kepada saya, untuk memproduksi pertunjukan tari dan ia ingin menjadi koreografernya. Tentu, sebagai ketua komunitas saya wajib mendukung. Akan tetapi, ketika itu, Nia juga baru saja memasuki masa kuliah S2 Jurusan Pendidikan Matematika yang bukan main banyak tugas kuliahnya. Lagipula, meski sudah beberapa kali berpentas baik sebagai penari latar dalam drama musikal produksi GMT maupun menari bersama sanggar tempatnya belajar, pengalamannya masih sebatas menjadi penari atas arahan koreografer. Singkatnya, saya meragukan kemampuannya membuat karya tari mandiri apalagi menggarap sebuah pertunjukan tari yang berdurasi lebih dari 30 menit. Saya usulkan agar ia membuat tari pendek berdurasi 2-5 menit dan penarinya adalah dia sendiri. Saya sanggupi untuk menghubungi kawan yang bergerak di bidang videography untuk menyotingnya dan menjadikan sebuah video tari yang akan diunggah di Youtube. Kepada Nia saya tambahkan kalimat impian bahwa “di Youtube kamu akan dilihat oleh ribuan orang dari seluruh penjuru dunia.” Dan dalam batin saya melanjutkan kalimat itu dengan “yen ana sing gelem ndelok.” Hingga beberapa waktu, janji tidak saya tepati meski ia terus mengejar. Tentu saja saya belum menepati karena ternyata untuk memproduksi sebuah tayangan video yang bagus (saya anggap seperti membuat video klip musik) ternyata cukup mahal. 

Ketika itu, saya juga aktif sebagai koordinator Forum Pencipta Lagu Muda Yogyakarta (FPLM) yang digagas dan disupport oleh Kedai Kebun Forum. Salah satu program FPLM adalah acara bulanan bernama FESTIVLA. Acara ini memberi kesempatan pada siapa saja orang muda Jogja dan sekitarnya yang punya karya lagu untuk tampil memainkan lagunya di hadapan sesama pecipta lagu lainya dan siapa saja yang bersedia datang. Nah, muncullah ide saya untuk mengadopsi konsep acara Festivla untuk memfasilitasi kegalauan Nia menari. Dengan begitu tidak hanya Nia, bahkan kami bisa memberi ruang baru untuk teman-teman lainnya yang barangkali seperti Nia, ingin sekali mencoba berkarya tetapi kesulitan mengatur acara pertunjukannya. Segeralah saya sampaikan hal ini kepadanya.

Dalam waktu singkat, Nia segera menghubungi teman-teman penari yang kebanyakan adalah mahasiswi tari ISI dan UNY dan menyampaikan kabar gembira ini… Sambil menunggu Nia mencari kawan penari yang bersedia tampil, saya mencari nama untuk program acara ini. Sebagai penduduk Jogja, saya tentu akrab dengan sistem pembentukan frase khas Jogja yaitu “Plesetan”, saya mulai mereka-reka berbagai kata yang berujung pada frasa Para Penari, menjadi Paranari, dan biar gaul, ditemukan juga dengan kata Dancer, Dance, lalu sim salabim jadilah nama PARADANCE. Jadi, PARADANCE secara mudah bisa diartikan suatu kumpulan tarian atau penari. Lalu Nia melanjutkan dengan membuat sebuah grup Facebook untuk wahana saling info bagi para pecinta tari yang kami berinama grup PARADANCER. Maka, tak lama kemudian terwujudlah parade tari kecil-kecilan, PARADANCE #1 diselenggarakan pada 29 Maret 2014. Nia yang awalnya ingin mencoba menjadi penata tari saja justru malah berperan ganda, menjadi penyaji karya tari merangkap menejer acara. 

Ketika itu, ada 6 tarian yang ditampilkan masing-masing oleh Mila Rosinta Totoatmodjo, Ayu Permatasari, Putri Wartawati, Hafizha Sabilla Azka, Nia Agustina, dan duet Raras Kusuma-Shinta. Pertunjukan digelar sederhana di pendopo Bale Budaya Samirono, dengan tata lampu hanya menggunakan 6 buah lampu Par 64 dan saklar ceklak-ceklek byar pet (bukan dimmer control sebagaimana tata lampu pertunjukan umumnya). Teman2 komunitas GMT yang tinggal segelintir, dibantu oleh pengurus Bale Budaya Samirono, dan beberapa anggota UNSTRAT UNY tanpa struktur kepanitiaan yang jelas, saling bantu menggelar acara ini. Para penari hanya mendapat satu bungkus nasi dan minuman air putih dalam kemasan. Tetapi, sejauh pengamatan saya, para penari menunjukkan semangat dan senyum puas yang tak terduga.

Nah, begitulah bagaimana Paradance ini lahir… Sangat personal, sederhana dan manusiawi serta begitu saja. Tanpa embel-embel cita-cita ndakik-ndakik soal kebudayaan dan atau penyemaian kreativitas pemuda di daerah istimewa. Namun, cita-cita dan klise ndakik-ndakik itu seringkali menyusul dari mulut kami terutama ketika ada wartawan datang meliput acara J. Mungkin karena grogi dan minder, di hadapan wartawan kami menjawab penuh klise ini dan itu. Segala macam alasan yang heroik dan nggombal. Padahal, bagi saya, alasan menyelenggarakan PARADANCE adalah untuk memfasilitasi agar Nia bisa pentas menari dan menyalurkan hobinya. So Sweet kan??? J. Toh kami yakin, bagi teman-teman peserta PARADANCE lainnya, ada banyak sekali alasan personal yang berbeda-beda yang melatarbelakangi keikutsertaan mereka. Ya, bagi pecinta tari, untuk tingkatan apapun, memang selalu ada alasan lain untuk menari. Dan saya bilang, apapun alasanya, silakan menari di sini.

Pada 29 Maret 2015 besok, akan digelar PARADANCE #6. Sudah satu tahun sejak kami mengawali panggung kecil ini. Sampai sekarang, belum ada hal yang heboh dan istimewa terjadi. Segalanya baik-baik saja dan nyaman-nyaman saja. Pergaulan kami memang terbatas. Apalagi saya bukanlah seorang penari dan tidak banyak mengenal para penari. Meski begitu, Alhamdulillah, melalui Nia (yang punya kenalan penari lebih banyak dari saya) datang berbagai saran dan dukungan. Banyak di antara saran-saran itu kami usahakan untuk terwujud. Tentu lebih banyak yang belum bisa kami jalankan. Salah satunya adalah beberapa kawan menyarankan agar PARADANCE dikhususkan untuk penari perempuan saja. Konon, di dunia tari, laki-laki dinilai lebih mampu “struggle” dibanding wanita, dan pada tingkat koreografer professional, dominasi laki-laki masih sangat kentara. Penari dan koreografer perempuan sangat perlu dukungan khusus. Hal ini juga disarankan sebagai upaya untuk membuat positioning yang jelas bagi Paradance untuk tetap eksis di tengah menjamurnya program-program acara pertunjukan di Jogja. Saya dan Nia segera membahasnya setiap kali ia baru bertemu seseorang dan mendapat banyak masukan. 

Sampai dengan edisi ke-6 dan insyaAllah seterusnya, PARADANCE akan tetap terbuka untuk segala jenis kelamin. Bukan kami tidak setuju dengan upaya mendukung seniwati tari. Tetapi bagi kami, justru dengan tidak mengkhususkannya, kami menganggap perempuan punya daya cipta yang setara dengan para penari pria. Jadi biarlah di acara ini, seniwati tari berdiri sama kerennya dengan para seniman tari. Mereka meraih kesempatan berekspresi, dan mendapat apresiasi bukan karena mereka perempuan, tetapi karena mereka manusia yang berkarya… (*cieeeee… kalimatkuuuhh… J) Jebul jumlah penari perempuan memang sudah mendominasi. Mungkin karena Jurusan tari ISI dan Jurusan Pendidikan Tari UNY lebih banyak mahasiswinya, dan sanggar-sanggar tari juga lebih banyak murid-murid perempuan. Dan jebulnya lagi, dari PARADANCE seri #1 hingga #6 yang akan datang, juga sudah didominasi oleh perempuan. Namun saya selalu meminta Nia untuk mencari setidaknya 1 penampil dari golongan pria di setiap edisi Paradance. Lebih juga boleh.

Selain bebas jenis kelamin, PARADANCE juga bebas usia dan latar pendidikan. Jikapun kami pernah beberapa kali menyebutkan sebagai “ajang karya penari muda”, memang itu sasaran utama. Tetapi tidak lantas kami menutup dari yang tidak muda. Pada Paradance #4 kalau tidak salah, ada penari anak-anak. Lho kok bisa? Ya, Dia adalah murid dari Scholastica W Pribadi, Scholastica W Pribadi adalah anak muda J. Pada Paradance #7 nanti, insyaAllah ada rombongan tari anak-anak dari Borobudur. Mereka adalah murid-murid dari mas Eko Sunyoto. Paradance juga terbuka bagi siapapun dari latar pendidikan non seni dan lintas jenis tarian. Boleh tradisi, boleh kreasi baru, apalagi kontemporer. Boleh tarian nusantara, boleh latin, ballet dan afro. Segala jenis seni berbasis gerak tubuh dibolehkan. Pada #1, ada Raras dan Shinta yang menarikan sebuah tari tradisi kerakyatan bergaya mbanyumasan, pada #4 ada tari latin dan #5 ada karya pantomime. Pokmen bebas tapi sopan.

Begitulah. PARADANCE sementara ini kami biarkan sebagai event tanpa positioning yang jelas. Satu-satunya positioning nya adalah ini sebuah acara pertunjukan tari (seni gerak tubuh), kalau bisa didominasi kaum muda, tetapi boleh pula remaja anak dan penari berumur. Bahkan, jika ada penari senior professional yang bersedia tampilpun, “kami welkam-welkam aja…”. Soal diferensiasinya bagaimana? Ya satu-satunya diferensiasi PARADANCE adalah tanpa Diferensiasi. Kelak, jika Tuhan merestui dan terlalu banyak seniman seniwati tari yang berminat tampil, mungkin saat itulah akan ada kebijakan baru yang membatasi. Sekarang ini, selagi belum ada alasan untuk membuat batas, maka kami tidak memberi batas bagi karya yang tampil. Meski demikian, secara teknis jelas sudah ada batas yang berasal dari kondisi alam. Misalnya, karena lokasi terbuka di tengah perkampungan, maka kami minta penari memakai kostum yang tidak terlalu vulgar dan tidak menyuguhkan tari erotis (sexy dance) dan batasan kondisi panggung yang sempit dan sederhana serta fasilitas yang minim.

PARADANCE sampai saat ini belum kami rencanakan untuk diajukan ke Dana Istimewa. Ini semata karena kemalasan kami mengurus ini dan itu. Kebutuhan teknis penari ditanggung oleh mereka sendiri. Sementara kami sebagai produser acara menanggung konsumsi dan sewa perlengkapan. Sedang teknis pendukung seperti dokumentasi berasal dari para relawan yang membantu. Di gambar publikasi PARADANCE #6 terpampang logo Penerbit Garudhawaca dan Gardabuku.com sebagai sponsor. Dua unit usaha kecil2an itu adalah usaha milik saya pribadi. Saya tampilkan di situ sebagai upaya untuk mengimbangi pengeluaran saja. InsyaAllah jika ada pihak lain yang bersedia membantu acara ini, boleh-boleh saja meminta logo usahanya dicantumkan di publikasi. 

Akhirnya, saya berterima kasih kepada semua kawan yang pernah dan masih dan (semoga) terus membantu terselenggaranya PARADANCE, terutama untuk sahabat-sahabat di komunitas Bale Budaya Samirono dan UNSTRAT. Juga saya haturkan salam dan doa sukses untuk para penari yang pernah tampil, dan para penyuka pertunjukan yang pernah dan akan hadir menonton. Salam hormat saya…


Ahmad Jalidu.        
Ketua GMT JOGJADRAMA.
Produser PARADANCE







Sabtu, 26 November 2011

Ballet in the jungle

A Ballet Musical Theatre “Nyanyian Rimbayana” from GMT (Gamblank Musical Theatre)

*Pricillia Winata

“What I have, that’s what I like. That’s the reason why I have the idea to make this show.”, said Didik Adi Sukmoko (32) while smocking his cigarette during the interview.
Didik or M Ahmad Jalidu as he is populary known, is the stage director of “Nyanyian Rimbayana” and one of the founder of GMT. The idea to make this event came from when he met a friend (Tika) whose studying dance education in UNY. “Well, about 3 years ago, I met Tika. And since last few months she was studying Ballet and very excited about Ballet until now. Finally, I asked her to join this event as the choreographer of Ballet. She agreed and we started the preparation for this show,” said Mas Jali, trying remember that time.
The preparation has been started since July, with the training is held twice a week for July-August, from 07.00 PM-10.00 PM. For September – December, the schedule will be increased as the time of event closer. Based on the plan, the event will be held on December, in Gedung Pamungkas. The training is done usually in Bale Samirono or UNY.
For GMT, this is the first time this community combines ballet dance with theatre. No theatre community in Jogja has ever combined ballet dance and theatre before. Though this is the first time, Jali, as the founder of GMT, doesn’t give up and move on. This event is something new in GMT, and also in Jogja. It is rarely founded in Jogja theatre communities who hold musical theatre; there are only some of them, for example: KOIN community. However, this community isn’t focus on musical theatre. This community only holds musical theatre once in a while. Musical and ballet are still new and interesting things in Jogja. Both things make the curiosity for people to know it. “It is a challenge for GMT to make something new and different for the others, “said Jali spiritly.
“Nyanyian Rimbayana” is a musical drama, written by M Ahmad Jalidu, about an animal Kingdom (Rimbayana) which is lead by a king, a Javan tiger. Basically, this drama is a mirror of the society’s life. It’s an interesting story because it shows the good moral about love and spirit to build our identity as Indonesian. This message is the reflection for society. Besides, this drama will be combined with ballet. In this show, the dance and action of the characters will follow the ballet technique. So, all the characters aren’t allowed to move and act generally. They should act like animals, but still in the ballet technique. It will make a new and different actions in this show.
To act and dance in ballet technique aren’t easy thing, because most of the members are never learn ballet before. That’s why the preparation for this show has been started since July. Most the members are the college students from UNY, USD, UAD,etc. All the members are trained by the choreographer, Scholastica. The tecniques given are the basics of ballet; such as: point, sotte, classical walk, etc. All the members fight and practice hard for the best performance in this show. It’s very difficult for the members, but they never give up. They keep trying for the best show in December.
Although the ballet techniques are basics, it’s combined with the acting as animals. So, the ballet techniques are combined with the acting as animals. It’s an improvisation. The result is a new harmony technique between ballet and acting as animals.

Priscilia Winata, Student of English Literature, Sanata Dharma University.

Kamis, 26 Maret 2009

Mahabharata : Kiss me, Please - Pertunjukan teater berbalut spirit fashion show

Naskah dan Sutradara : Alex Suhendra
Pencipta Lagu : Alex Suhendra
Ilustrasi Musik : Bahrudin F. Bolu

Aktor :
• Alex Suhendra
• M. Ahmad Jalidu
• Agung Wijaya
• Maftu Rahayu
• Suyatman
• Rio Handziko

Konsep pemanggungan

Di panggung, kita mengenal istilah side wing; tempat di mana aktor-aktor lain menunggu dan melakukan persiapan untuk adegan selanjutnya selama lakon dalam stage utama dimainkan. Dengan begitu mereka (aktor-aktor di dalam side wing) bisa dikatakan terlepas dari interaksi karakter dalam dunia naskah yang tengah dilakonkan. Kemudian pertanyaannya adalah; apakah dalam kehidupan sehari-hari kita hanya diam menunggu, (duduk di side wing) selama si A atau si B jalan-jalan di mall? Tentu saja tidak, karena manusia-manusia lain juga melakukan aktifitas keseharian mereka dengan atau tanpa sepengetahuan orang lain. Jadi, jika kita umpamakan bumi ini adalah sebuah panggung, maka sudah jelas bahwa orang-orang (aktor) yang hidup di dalamnya tidak pernah tinggal (hanya diam) menunggu (lebih tepat dikatakan menonton dan kemudian hanya jadi oknum-oknum luar yang tertidur) selama kerja manusia lain sedang berlangsung. Maka tidak ada fokus. Semuanya bergerak (global moving) demi kepentingan, urusan, dan melakukan aktifitas keseharian masing-masing individu yang kemudian mempertemukan mereka dalam satu mikro komuni cerita yang sama, dalam adegan yang muncul, lantas menjadi keping-keping populasi dan komunitas yang lebih besar.

Dari kasus di atas itulah kemudian saya terinspirasi untuk menggunakan konsep pamanggungan yang saya beri istilah Global Moving. Di mana pangggung tidak menggunakan side wing, dan aktor-aktor yang terlibat terus beraktifitas sesuai konteks karakter dalam naskah yang tengah diusung ke atas panggung.

Metode penyutradaraan

Pola akting Realis(me) adalah pola akting yang pijakannya dicuplik dari kehidupan keseharian. Fisiologis, psikologis, dan sosiologis karakter yang dimainkan aktor harus seperti (jika boleh dikatakan; persis) dalam keseharian. Berlaku dan berucap seperti seharusnya manusia. Detil dan tetek bengek pengadeganan harus mampu memunculkan kesan tersebut. Dan saya rasa, untuk beberapa hal, Realisme kemudian menjadi semacam dasar lain menuju terciptanya metode-metode penyutradaraan. Memang, pola akting Realisme bukan yang paling tua di antara sekian banyak konsep pemanggungan, tapi pijakan pola akting realisme sendiri adalah hal yang sungguh purba, yaitu keseharian manusia itu sendiri. Berdasarkan itu, demi memenuhi konsep Global Moving yang saya usung, maka saya pakai pola akting Realisme sebagai pijakan aktor-aktor selama berkutat dalam pencarian motivasi, situasi, dan kepentingan penciptaan pondasi karakter dengan teknik pendekatan psikologis, sosiologis juga historis tokoh yang kelak dimainkan.

Setelah proses itu selesai, saya gunakan teknik zoom in seperti yang ada pada mikroskop. Baiknya kita bicarakan sedikit tentang mikroskop. Salah satu fungsi alat ini adalah untuk memperbesar gambar sebuah preparat atau spesimen yang tengah diteliti. Benda-benda serta mahluk yang tak mampu kita lihat dengan mata telanjang dapat terbantu dikenali keberadaannya lewat mikroskop. Sehingga detil-detil yang terlalu rapat sekalipun akan tampak besar dan renggang satu sama lain ketika dilihat di bawah lensa mikroskop. Lantas aplikasi dari teknik zoom mikroskop ini aku terapkan untuk beberapa adegan yang ketika dimainkan dengan konvensi pemanggungan realisme biasanya terkesan berdekat-dekatan. Sebagai contoh; adegan dua orang yang sedang marah atau sedang penuh nafsu dalam adegan pelukan, akan punya jarak yang cukup renggang (secara fisik) ketika menggunakan teknik zoom in tersebut. Mereka kemudian seakan punya garis vektor, jalur gerak, motivasi, dan akhirnya menjadi sebuah pertunjukan tersendiri ketika jarak kedua orang (atau lebih) tersebut mengalami perbesaran ataupun dibesarkan.

Alex Suhendra : Sutradara MAHABARATA : Kiss me Please.

MAHABARATA : Kiss me, Please --- MENENGOK CINTA Berujung Politik

Naskah dan Sutradara : Alex Suhendra
Pencipta Lagu : Alex Suhendra
Ilustrasi Musik : Bahrudin F. Bolu

Aktor :

• Alex Suhendra
• M. Ahmad Jalidu
• Agung Wijaya
• Maftu Rahayu
• Suyatman
• Rio Handziko



Apa dan kenapa cerita ini? :

Dari mana datangnya cinta ...?
Dari mata turun ke hati (?)
Sejak kapan adanya cinta..?
Hanya pencipta, (atau iblis?) yang tahu pasti ...

Naif ... ??
Mungkin itu yang terlintas di benak Anda saat membaca ungkapan di atas, terlebih di dua baris terakhir. Tapi biarlah kalimat itu ada…, benar atau salah!
Toh, seandainya itu benar-benar muncul pun, siapa yang lantas benar-benar bisa menjawab?? Alih-alih menjawab, sebagian kita mungkin lebih memilih acuh-berlalu…
Masalahnya, tak ada di antara kita yang tak bisa "lepas" dari cinta. Ya, kan? Di sini, suka atau tidak, dengan adanya cinta kita lalu bersinggungan dengan praksis (politik) kekuasaan atas nama, dari, dan, karena, untuk, CINTA.
Sadar atau tidak, dan setuju atau tidak, siapa saja yang saat ini sedang jatuh cinta, atau sedang mencintai, atau yang diputus cinta, berarti pasti sedang berada dalam lingkaran permainan politik kekuasaan itu. Permainan yang jelas melibatkan subyek – obyek: siapa yang menguasai siapa, siapa yang dikendalikan siapa ...?!
Nah, persoalan 'sejak kapan', pun akhirnya muncul juga dan harus dihadapi. Jika tidak, bisa dibilang orang itu telah kehilangan kendali kekuasaan atas dirinya sendiri. Kenapa? Karena pertanyaan 'sejak kapan' itu bisa menjadi titik atau ruang bercermin bagi orang tersebut mempertanyakan kembali posisi dirinya; menguasai atau dikuasai..??
Ibarat kotak hitam pesawat, atau sidik jari pada satu kasus, perkara 'sejak kapan' hadir sebagai saksi bisu yang tak-tampak atas segala kejadian relasi cinta yang telah, sedang atau akan berlangsung pada diri seseorang. Catatan yang menjadi dasar berpijak bagi seseorang itu untuk memilih; menjadi yang menguasai atau dikuasai, bagi lawan relasi percintaannya. Lebih dari itu, 'sejak kapan' juga memaksa siapa saja untuk menengok kembali tujuan terciptanya relasinya itu…
Ironisnya, karena enggan berkutat dengan masalah sejarah, orang kadang menjadi alpa akan 'ada apa pada kali pertama cinta itu ada…?'' Di sinilah, titik balik kebermaknaan cinta menjadi dipertanyakan!
Sebab, lingkaran kekuasaan relasi cinta tadi tidak lantas hanya melingkupi ranah hati atau perasaan – konon yang menjadi tempat di mana cinta itu ada, secara personal dan privat. Lebih dari itu, cinta lalu menarik ulur panjang relasinya pada wilayah psiko-sosial, yaitu PERILAKU.
Masih ingat kasus Ryan si gay penjagal dari Jawa Timur..?
Pada kasus itu, kita bisa menyimak betapa, ibarat anah panah, cinta justru melesat jauh dari titik tujuannya. Alhasil, orang jadi berubah. Dalam hal ini, yang lebih penting adalah bagaimana kesan, bentuk dan rasa yang tercipta pada pikiran (mind) dan perasaan (soul) dari perubahan akibat relasi tersebut.
Lagi-lagi, tak banyak orang yang mau memikirkan ini. Bahkan, kebanyakan justru cenderung hanyut dalam aliran sungai relasi cintanya tanpa menyadari apakah kebutuhan psikologisnya sendiri benar-benar terpenuhi.
Satu lagi, hanya demi, karena, dan untuk cinta, segala bentuk intrik dan taktik akan muncul sebagai bentuk nyata naluri-instingtif kita sebagai makhluk. Dan dengan segala intrik-taktik itulah, nafsu menguasai dan pemenuhan hasrat (per)cinta(an), apapun bentuknya, mewujud sebagai rupa politik kekuasaan.
Pertanyaannya, di mana posisi Anda saat ini? Seperti apa wujud perilaku (psikologis) Anda? Adakah cinta harus memakan korban..?
Mungkin inilah yang menjadi celah pandang cerita Mahabarata; Kiss me, Please yang akan dipanggungkan kelompok GMT, April mendatang.

Agung Wijaya
Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Aktor dan Dewan Pendiri Gamblank Musikal Teater.